Gererja Bukanlah Tempat Pesugihan (bagian 2)

Bagaimana Tuhan Memberkati Jemaat?

Jakarta, legacynews.id – Banyak jemaat datang ke gereja dengan harapan memperoleh berkat materi setelah memberikan persembahan atau persepuluhan. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma dari teologi anugerah menjadi teologi transaksional. Pemahaman bahwa pemberian finansial secara otomatis memicu aliran kekayaan materi adalah distorsi serius terhadap ajaran Alkitab. Artikel ini mengupas secara analitis bagaimana Tuhan sebenarnya memberkati jemaat, untuk meluruskan miskonsepsi yang sering dieksploitasi oleh teologi kemakmuran.

Proses Tuhan memberkati umat-Nya berakar pada kasih karunia, bukan semata-mata pada jumlah pemberian yang disetorkan ke gereja. Rasul Paulus dalam Efesus 2:8-9 menegaskan bahwa keselamatan dan segala berkat rohani adalah pemberian Allah, bukan hasil pekerjaan manusia, sehingga tidak ada yang dapat memegahkan diri. Jika berkat diukur berdasarkan besaran persembahan, maka anugerah Allah direduksi menjadi komoditas yang bisa dibeli. Tuhan memberkati dengan cara yang jauh lebih luas dan mendalam daripada sekadar akumulasi harta benda. Berkat ilahi mencakup damai sejahtera, kesehatan, relasi yang dipulihkan, pertumbuhan karakter, dan ketekunan dalam menghadapi penderitaan.

Pemeliharaan Tuhan atas umat-Nya digambarkan dengan indah dalam Mazmur 23:1, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Ayat ini tidak menjanjikan kelimpahan kemewahan, melainkan kepastian pemeliharaan ilahi dalam setiap musim kehidupan. Seorang gembala yang baik memastikan domba-dombanya mendapatkan apa yang mereka butuhkan, bukan segala apa yang mereka inginkan. Demikian pula, Filipi 4:19 menyatakan, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Janji ini memberikan jaminan bahwa Allah akan mencukupi kebutuhan esensial umat-Nya untuk menggenapi kehendak-Nya, bukan untuk memuaskan hawa nafsu materialisme.

Persembahan adalah sarana iman, bukan sebab-akibat otomatis yang memaksa Tuhan untuk menurunkan berkat. Teologi kemakmuran sering kali menggunakan “hukum kompensasi” untuk memotivasi jemaat memberi, dengan janji bahwa Tuhan akan mengembalikan berlipat ganda (Jones, 2019). Pemikiran ini mengubah posisi Allah menjadi sekadar alat untuk mencapai ambisi manusiawi. Ketika jemaat memberi dengan motivasi untuk mendapatkan balasan, mereka sebenarnya sedang melayani diri sendiri, bukan melayani Tuhan. Pemberian yang sejati lahir dari rasa syukur atas kasih karunia yang sudah diterima, bukan sebagai uang muka untuk menagih janji berkat di masa depan.

READ  Keluarga Sandera Hamas Menuntut Tindakan Internasional

Gereja harus mengajarkan bahwa berkat Tuhan tidak bisa diperdagangkan. Memberi adalah ekspresi iman yang mempercayakan seluruh aspek kehidupan kepada kedaulatan Allah. Ketika seseorang memberi, ia sedang melepaskan keterikatannya pada mamon dan menyatakan bahwa Tuhan adalah satu-satunya sumber keamanannya. Pemahaman ini membebaskan jemaat dari kekecewaan ketika harapan materialistis mereka tidak terwujud. Iman yang otentik tetap teguh meskipun tidak ada peningkatan kekayaan secara instan.

Gereja Bukanlah Tempat Pesugihan, melainkan tempat jemaat belajar memberi dengan iman, syukur, dan kasih. Berkat terbesar yang Tuhan berikan kepada jemaat adalah kehadiran-Nya sendiri melalui Roh Kudus. Dengan memiliki Kristus, orang percaya telah memiliki segala sesuatu yang paling berharga di alam semesta. Pembaruan pikiran ini akan membawa jemaat pada kedewasaan rohani, di mana mereka mampu bersukacita dalam segala keadaan dan menjadi saluran berkat bagi dunia di sekitar mereka.

 

Pro Ecclesia Et Patria

Antonius Natan
Fasilitator Nasional Bapa Sepanjang Kehidupan| Ketua Komisi Infokom PGLII

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*