Konsolidasi Industri Telekomunikasi Seluler Percepat Transformasi Digital

<

Pemerintah menyambut baik konsolidasi industri telekomunikasi seluler. Sebuah terobosan yang baik untuk efisiensi industri percepatan transformasi digital Indonesia.

Setelah sempat tertunda, Indosat Ooredoo dan Tri Indonesia akhirnya resmi merger dengan membentuk perusahaan gabungan yang diberi nama PT Indosat Ooredoo Hutchinson Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison).

Peta persaingan industri telekomunikasi tentu berubah drastis pascamerger. Kesepakatan merger yang bernilai USD6 miliar itu melahirkan operator telekomunikasi nomor dua terbesar di Indonesia setelah PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk.

Pasalnya, pascamerger entitas bernama Indosat Ooredoo Hutchison akan melayani 104 juta pelanggan per kuartal II-2021. Posisi pemegang pelanggan seluler nomor satu tetap diduduki Telkomsel yang melayani 169 juta pelanggan.

Pada posisi ketiga ditempati XL Axiata yang memiliki 56,7 juta pelanggan atau setengah dari jumlah pelanggan Indosat Ooredoo Hutchison. Lantas bagaimana peta penguasaan spektrum frekuensi? Perusahaan gabungan Indosat dan Tri akan beroperasi dengan spektrum frekuensi sebesar 2×72,5xMHz, sedangkan Telkomsel mengoperasikan 2×82,5MHz, serta XL Axiata mengoperasikan 2x45MHz.

Itulah bentuk hasil konsolidasi dua operator seluler, PT Indosat Ooredoo dan PT Hutchison TbK. Merger kedua perusahaan itu disepakati melalui transaksi definitif di Doha, Kamis (16/9/2021). Kesepakatan itu dihasilkan induk masing-masing perusahaan, Ooredoo QPSC (Ooredoo Group) dan CK Hutchison Holding Limited.

Bagi pemilik kedua perusahaan, harapannya pascamerger mereka memiliki kekuatan lebih baik dibandingkan berdiri sendiri-sendiri. Entitas baru itu diharapkan mampu bersaing di industri telekomunikasi nirkabel yang semakin ketat di masa mendatang.

Mengomentari kesepakatan itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menyambut baik merger Indosat Ooredoo dan Tri Indonesia tersebut. “Kami tentu menyambut baik konsolidasi industri telekomunikasi secara khusus telekomunikasi seluler. Suatu terobosan yang baik untuk efisiensi industri telekomunikasi serta percepatan transformasi digital Indonesia,” kata Johnny, Jumat (17/9/2021).

READ  Membidik investasi Migas Senilai USD22,59 Miliar di 2022

Tentu, tambah Johnny, pemerintah menunggu pemberitahuan resmi dari mereka. “Pemerintah tentu akan mengevaluasi semua aspek terlebih dahulu sesuai dengan peraturan yang berlaku, termasuk alokasi spektrum.”

Dari siaran pers yang diterima Indonesia.go.id, Managing Director of Ooredoo Group Aziz Aluthman Fakhroo meyakini, perusahaan gabungan itu akan membawa nilai dan keuntungan signifikan bagi para pemangku kepentingan di Indonesia.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*