Memikat Saintis Indonesia Seluruh Dunia Kembali ke Tanah Air

Kolaborasi menjadi kata kunci untuk memikat saintis Nusantara di seluruh dunia untuk mengembangkan beragam riset inovasi bagi kemajuan Indonesia. Sekretariat Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional menyebutkan, pada 2020 saja terdapat total 477 diaspora menjadi saintis di seantero dunia.

Jakarta, legacynews.id – Jumlah penduduk Indonesia hingga Juni 2021, menurut data Administrasi Kependudukan di Kementerian Dalam Negeri, adalah berjumlah 272.229.372 jiwa. Penduduk sebanyak itu tidak hanya bermukim dari Sabang sampai Merauke atau Miangas hingga Pulau Rote saja. Terdapat sekitar delapan juta jiwa lainnya hidup dan menetap di seluruh penjuru dunia untuk berbagai tujuan.

Mereka ada yang bekerja, melanjutkan tingkat pendidikan, atau menikah dengan warga negara lain. Mereka kemudian dikenal sebagai masyarakat Indonesia di luar negeri (MILN) atau diaspora. Dalam Keputusan Presiden nomor 76 tahun 2017 disebutkan beberapa ketentuan mengenai diaspora. Misalnya warga negara Indonesia (WNI) atau warga negara asing (WNA) yang merupakan anak dari WNI, eks WNI, dan anak dari eks WNI.

Kata diaspora berasal dari bahasa Yunani kuno di tahun 586 Sebelum Masehi yang berarti penyebaran atau penaburan benih. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan kalau diaspora berarti tersebarnya suatu bangsa di berbagai penjuru dunia. Dalam Merriam-Webster Dictionary, diaspora mempunyai beberapa makna. Salah satunya adalah seseorang yang menetap jauh dari tanah air leluhur mereka.

Para diaspora Indonesia tadi dalam perjalanannya telah bertransformasi menjadi sosok-sosok tangguh pada berbagai bidang di seluruh dunia. Di bidang riset dan inovasi, diaspora Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi kemampuannya. Kita tentu belum lupa dengan sepak terjang Carina Citra Dewi Joe. Perempuan asal Jakarta pemilik titel doktor bioteknologi dari Royal Melbourne Institute of Technology ini adalah satu dari enam pemegang hak paten global vaksin Covid-19 AstraZeneca.

READ  Pemerintah Rancang Program Bagi Anak-Anak Yatim Piatu Akibat Covid-19

Dari tangan dingin peneliti utama Jenner Institute University of Oxford, Inggris, tersebut, lahir vaksin dengan jangkauan penggunaan paling luas. Berkat kerja keras pemegang hak paten tentang manufacturing scale up atau produksi skala besar, AstraZeneca saat ini telah diproduksi sebanyak lebih dari 770 juta dosis. AstraZeneca telah digunakan di 178 negara di lima benua termasuk Indonesia.

Carina bukanlah satu-satunya ilmuwan diaspora Indonesia. Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional, para saintis diaspora menyebar merata di seluruh dunia. Di Asia Timur jumlah mereka mencapai 35 persen, diikuti Inggris dan Eropa (27 persen), Amerika Serikat dan Kanada (13 persen). Disusul Asia Tenggara (13 persen), Australia (7 persen), dan 5 persen ada di Timur Tengah serta Afrika. Mereka menguasai bidang-bidang keilmuan seperti teknik dan teknologi informatika (47 persen), ilmu pengetahuan alam (24 persen), kesehatan (14 persen), ilmu sosial (12 persen), dan 4 persen dalam bidang ilmu humaniora.

Sedangkan data Sekretariat Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional menyebutkan, pada 2020 saja terdapat total 477 diaspora menjadi saintis di seluruh dunia. Mereka tersebar di Asia Tenggara (120 orang), Asia Timur (92 orang), Eropa (43 orang), Inggris (34 orang), Amerika dan Kanada (105 orang), Timur Tengah-Afrika (14 orang), dan Australia (70 orang).

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Website Protected by Spam Master