Tidak Salah Pilih Pasangan Namun Perhatikan Perlakuan Sendiri

Jakarta, legacynews.id – Dunia selalu berubah, demikian juga manusia acapkali berubah. Tulisan ini  membahas tentang seorang suami yang awalnya menganggap bahwa dia salah memilih isteri, namun setelah mendapatkan pertolongan dari seorang konselor terjadi perubahan yang luar biasa dalam hubungan keluarga. Suami tersebut mulai merasakan kasih yang lebih dalam terhadap isteri dan anaknya, sekaligus bersemangat untuk melayani di gereja. Artikel ini akan membahas tentang saran-saran yang diberikan oleh konselor tersebut yang memadukan prinsip-prinsip Kitab suci dalam sesi konseling.

Efesus 5:23 & 25 “Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”

Menggali Akar Masalah: Konselor mendorong suami untuk memahami akar permasalahan yang membuatnya merasa salah memilih isteri. Dalam sesi konseling, suami akan diajak untuk melihat hubungan mereka dengan perspektif yang lebih luas, sehingga dapat ditemukan alasan-alasan yang mendasari kemarahan dan ketidakpuasan yang dialami. Menemukan kebaikan-kebaikan istri dan melihat kekurangan pribadi.

Menerapkan Prinsip Kelembutan dan Pemaafan: Selama proses konseling, konselor  membimbing suami tentang pentingnya kelembutan dan pemaafan dalam hubungan suami-isteri. Suami diajak untuk melihat bahwa belas kasihan dan pemaafan adalah bagian penting dari kasih Kristus yang harus diterapkan dalam hubungan perkawinan.

Membangun Komunikasi yang Sehat: Konselor membantu suami untuk belajar berkomunikasi secara efektif dengan isteri dan anak, dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi yang sehat. Suami akan diajarkan untuk mendengarkan dengan empati, berbicara dengan kelembutan, dan mengekspresikan perasaan dan kebutuhan dengan jujur. Suami menyediakan waktu setiap hari dan akhir pekan untuk melakukan aktivitas bersama dengan keluarga.

READ  Camera Di Mana-Mana Sama Seperti Mata Tuhan

Membentuk Kebiasaan Keluarga yang Positif: Konselor memberikan saran kepada suami untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan keluarga yang positif, seperti beribadah bersama, berdoa bersama, dan melayani di gereja sebagai keluarga. Kegiatan-kegiatan ini akan membantu menjalin ikatan yang lebih erat antara suami, isteri, dan anak. Mendiskusikan ayat firman Tuhan akan membantu menghidupkan suasana keluarga, jamuan makan sederhana yang dikerjakan bersama akan membangun rasa percaya dan menghangatkan.

Menggali dan Menghargai Nilai Kebermaknaan Kristiani dalam Keluarga: Konselor  mendorong suami untuk memahami nilai-nilai Kristiani yang penting dalam keluarga, seperti kasih, kesetiaan, kerendahan hati, dan pengampunan. Suami akan diajak untuk menghargai dan menghidupkan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari sebagai pemimpin keluarga. Suami dan isteri saling mengucapkan terima kasih dan penerimaan atas hal-hal yang sederhana. Menatap mata dan sentuhan lembut kepada pasangan, akan bermakna sebagai bagian dari rasa sayang.

Melalui saran-saran yang disampaikan oleh konselor, suami mengalami perubahan yang signifikan dalam hubungan dengan isteri dan anak. Dia mulai merasakan kasih yang lebih dalam dan bersemangat untuk melayani dalam gereja sebagai keluarga. Konselor dengan bijak mampu membantu suami tersebut dalam proses transformasi dan memberikan paradigma baru tentang hubungan keluarga yang didasarkan pada kasih Kristus. Tentu kalau Allah yang mempersatukan tidak ada yang boleh memisahkan. Dan Tidak ada salah pilih, yang terjadi perlakuan yang tidak tepat. Kebahagiaan dan keharmonisan suami isteri merupakan upaya dan kerja keras bersama.

Antonius Natan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*