Jemaat Dipanggil Untuk Memuliakan Allah (2)

/script>

Jakarta, legacynews.id – Tujuan utama jemaat bukan kepuasan diri, melainkan kemuliaan Allah. Jemaat diciptakan, ditebus, dikuduskan, dan diutus agar hidupnya menyatakan kemuliaan Allah di tengah dunia.

Alkitab membuka kisah manusia dengan identitas yang tinggi. Kejadian 1:26-27 menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Lalu Kejadian 1:28 memberi mandat untuk memenuhi bumi, menaklukkannya, dan mengelola ciptaan.

Mandat ini bukan izin untuk merusak bumi. Mandat ini adalah panggilan untuk mengelola hidup di bawah pemerintahan Allah. Manusia memuliakan Allah melalui kerja yang benar, relasi yang sehat, keluarga yang bertanggung jawab, tata kelola ciptaan, dan keadilan sosial.

Bagi gereja, mandat penciptaan ini penting. Jemaat tidak memuliakan Allah hanya saat menyanyi di ruang ibadah. Jemaat memuliakan Allah saat bekerja jujur, mendidik anak, menolak korupsi, merawat lingkungan, membela keadilan, dan memakai profesi untuk kebaikan bersama.

Yesaya 43:7 merangkum tujuan itu dengan tegas. Allah berkata, “semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Kalimat ini menjadi dasar teologis yang kuat. Jemaat hidup bukan untuk nama sendiri. Jemaat hidup untuk kemuliaan Allah.

Umat Allah sebagai Komunitas Perjanjian

Keluaran 19:5-6 menyebut umat Allah sebagai “harta kesayangan”, “kerajaan imam”, dan “bangsa yang kudus.” Identitas ini menunjukkan bahwa umat Allah menerima kehormatan dan tanggung jawab. Mereka tidak hanya menerima berkat. Mereka juga membawa kesaksian.

Sebagai kerajaan imam, umat Allah berdiri di hadapan Allah dan di tengah bangsa-bangsa. Mereka menyembah Allah. Mereka juga menunjukkan karakter Allah dalam hidup sosial. Kekudusan mereka bukan isolasi. Kekudusan mereka adalah kesaksian.

Ulangan 6:5-7 menegaskan bahwa panggilan ini harus diteruskan melalui pemuridan keluarga. Firman harus diajarkan berulang-ulang kepada anak-anak. Pembentukan iman terjadi saat duduk di rumah, berjalan, berbaring, dan bangun.

READ  Alokasi Dana Zakat Untuk Pengelolaan Lahan Wakaf

Dasar Firman Tuhan

Kutipan LAI Terjemahan Baru

Makna bagi Jemaat

Kejadian 1:26-28 Manusia diciptakan menurut gambar Allah Hidup, kerja, dan tata kelola harus memuliakan Allah
Keluaran 19:5-6 “Kerajaan imam dan bangsa yang kudus” Jemaat memiliki identitas kudus dan tugas kesaksian
Ulangan 6:5-7 Firman diajarkan berulang-ulang Pemuridan dimulai dari rumah dan ritme harian
Mazmur 96:3 “Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa” Misi berakar dalam panggilan umat Allah
Yesaya 43:7 “Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku” Tujuan hidup jemaat adalah kemuliaan Allah

Mazmur 96:3 memperluas cakrawala itu. “Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa.” Misi tidak baru muncul dalam Perjanjian Baru. Sejak awal, umat Allah dipanggil untuk menyatakan kemuliaan Tuhan kepada bangsa-bangsa.

Kristus dan Buah yang Memuliakan Bapa

Perjanjian Baru melanjutkan dan menggenapi arah ini. Yohanes 15:8 berkata, “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” Buah murid memuliakan Bapa. Buah itu tampak dalam kasih, ketaatan, pelayanan, penginjilan, dan karakter.

Yohanes 15:16 menegaskan bahwa Kristus memilih murid untuk pergi dan menghasilkan buah yang tetap. Jadi, jemaat bukan kelompok pasif. Jemaat menerima panggilan aktif. Allah dimuliakan ketika jemaat hidup berbuah.

Roma 12:1 menegaskan bahwa tubuh harus dipersembahkan sebagai persembahan yang hidup. Ini mencakup seluruh kehidupan. Ibadah sejati terjadi ketika jemaat mempersembahkan diri kepada Allah dalam realitas sehari-hari.

Gereja perlu menolong jemaat memahami bahwa memuliakan Allah bukan slogan. Itu tugas harian. Jemaat memuliakan Allah melalui keputusan etis, cara memakai uang, cara berbicara, cara bekerja, cara mendidik anak, cara memakai media sosial, dan cara melayani masyarakat.

READ  Keberlanjutan Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN)

Jika jemaat memahami mandat ini, gereja tidak akan terjebak dalam budaya konsumen. Jemaat tidak hanya bertanya apa yang ia dapatkan dari gereja. Jemaat bertanya bagaimana ia dapat memuliakan Allah melalui gereja dan di luar gereja.

Jemaat diciptakan untuk kemuliaan Allah. Jemaat dipanggil menjadi umat perjanjian. Jemaat dibentuk menjadi murid yang berbuah. Jemaat dipanggil untuk memuliakan Allah. Karena itu gereja harus mengajar jemaat melihat seluruh hidup sebagai ruang ibadah.

Pertanyaan bagi kita jelas. Apakah hidup kita membuat nama Allah dimuliakan? Apakah keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan keputusan publik kita menunjukkan bahwa kita milik Allah?

Pada seri berikutnya, kita akan membahas panggilan jemaat untuk melayani, bukan hanya dilayani.

 

Pro Ecclesia Et Patria

Antonius Natan
Dosen STT Kadesi Yogjakarta | Ketua Komisi Infokom PGLII

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*