/script>
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lukas 9:57-58
Ada orang yang kecewa ketika ia telah mengikuti Tuhan Yesus. Kekecewaannya karena apa yang ia inginkan ternyata berbeda dari kenyataannya. Ia mengikuti Tuhan Yesus dengan motivasi yang salah.
Pada dua ayat di atas digambarkan salah satu orang yang menjadi kecewa, karena memiliki motivasi yang salah dalam mengikuti Tuhan Yesus. Orang pertama yang berdialog dengan Yesus ini berkata : “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.”. Terjemahan New American Standard Bible (NASB) : “I will follow You wherever You go.” Tetapi Yesus menanggapi dia dengan berkata : “… tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” NASB menterjemahkan, “… but the Son of Man has nowhere to lay His head.” Orang ini: “wherever”, Yesus: “nowhere”.
Orang ini ingin mengikuti Tuhan Yesus dengan berharap bahwa Ia membawa kepada tujuan tertentu dalam perjalanan-Nya. Tentunya tujuan yang diharapkan orang ini adalah satu tempat untuk hidup bersama-sama dengan Tuhan Yesus yang menjamin kelangsungan hidupnya. Motivasinya mengikuti Tuhan Yesus, karena sesuatu jaminan di dunia ini. Tetapi dalam pembacaan ini, Yesus tidak memberikan jaminan apa-apa selama dalam pelayanan-Nya di bumi ini. Buktinya, Yesus baru saja melewati Samaria, tetapi orang-orang itu tidak mau menerima Dia (Luk. 9:53). Itulah sebabnya Yesus berkata, “the Son of Man has nowhere to lay His head.” (tidak ada tempat menaruh kepala-Nya). Tidak ada jaminan apa-apa di bumi ini – – “no earthly security”.
Melihat Yesus yang menjadi manusia, jelas sekali, Ia tidak dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Malahan Ia harus mengosongkan diri-Nya, menjadi hamba dan mati di kayu salib (Fil. 2:6-8).
Selama Yesus di dunia, Ia menjadi miskin, supaya kita menjadi kaya (2 Kor. 8:9). Yesus memang secara sosial tergolong orang miskin: Lahir di tempat sederhana dan dibaringkan di dalam palungan; meminjam koin (mata uang) (Mat. 22:19); meminjam keledai waktu akan disambut sebagai raja (Mat. 21:1-11); pada waktu dikuburkan, Ia dipinjamkan kuburan yang masih baru milik orang (Mat 27:59-60). Teladan dalam kesederhanaan hidup Yesus harus menjadi koreksi dalam pemikiran kristiani yang sangat membesar-besarkan “prosperty theology” yang menekankan “material wealth” dan “physical well-being” sebagai suatu tanda “God’s favor and blessings”
Jadi Yesus tidak berkenan kepada orang ini, karena di belakang keinginannya mengikuti Tuhan Yesus terdapat motivasi yang tidak benar. Komitmennya hanya didorong oleh keinginan pribadinya untuk mendapatkan sesuatu jaminan dalam hidupnya.
Seharusnya dalam kita mengikuti Tuhan Yesus, kita harus dengan motivasi yang benar. Motivasi kita, seharusnya hanya mengikuti Yesus saja, bukan yang lain-lain.
Kiranya kebenaran Firman Tuhan terus mencerahkan pemikiran-pemikiran dalam gereja Tuhan.
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy Lengkong, MTh.
Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia


Leave a Reply