GEREJA PERLU MELIHAT FAKTA PAPUA HARI INI

Kisah Para Rasul 1:8 TB2, “sampai ke ujung bumi …”

Konferensi Internasional Doa dan Pekabaran Injil – Hari Doa Nasional IV 2025, dilaksanakan 1-5 Juli 2025, di Sentani – Papua, menghasilkan “Rekomendasi dan Komitmen – Konferensi Internasional dan Hari Doa Nasional 2025“. Rekomendasi ini saya usulkan dan disetujui. Saya menyusun draft Rekomendasi dan Komitmen yang terdiri dari 6 point. Point 1-4 saya buat sebagai hasil kumpulan paparan dari para nara sumber tokoh-tokoh gereja Papua (GKI Tanah Papua), PGI dan Rumah Doa Segala Bangsa; Point 5-6 dibuat oleh FUKRI. Draft diperiksa, kemudian disetujui.

Adapun isi Rekomendasi dan Komitmen Konferensi Internasional Doa dan Penginjilan, dan HDN 2025 adalah sebagai berikut (disampaikan secara pernomor), pada point pertama, tertulis:

1. Bahwa berbagai denominasi gereja perlu melihat fakta Papua hari ini. Papua adalah tanah yang indah dan kaya, tanah yang di satu sisi adalah tanah berkat dan taman surgawi, tetapi di sisi lain adalah ruang konflik, tanah airmata, ratap tangis, penderitaan, kemiskinan dan penderitaan. Tanah di sebelah timur peta dunia dan wilayah timur Indonesia, sebuah gagasan dan pengharapan ada pada Tanah Papua.

Ketika berlangsung HDN 2025, 5 Juli 2025, yang dilaksanakan di Stadion Lukas Enembe / Papua Bangkit, tampil 650 anak-anak Papua dengan 650 gitar ukulele yang menyanyikan lagu Papua dengan chorus, ….

Dengarlah..dengarlah.. Tuhan Yesus mari dengarlah / mereka bernyanyi dengan suara manis merdu / ada nyanyian ratapan dan ada nyanyian gembira / itulah nyanyian bangsaku.. /…

Nyanyian ratapan dan gembira ini adalah suara dari Tanah Papua hari ini dan fakta!

Karena itu, di point 1 rekomendasi mengajak gereja-gereja, utamanya yang berasal dari luar Tanah Papua untuk melihat fakta di Papua hari ini, bahwa meskipun Papua adalah tanah berkat yang kaya dan indah, taman surgawi, kaya dengan tambang, gunung, hutan, sungai, kota dan burung cenderawasih, tetapi di sisi lain masih merupakan ruang konflik yang menghasilkan ketidakadilan, kekerasan, pembunuhan, perampasan, kemiskinan dan air mata penderitaan dari Orang Papua. Papua sedang menangis!!

READ  Gereja Berikan Tanggung Jawab Kepada Anak-Anak

Pada tahun 2021, PGLII membuat pernyataan kepada pemerintah agar pasukan non organik yang tidak henti dikirim ke Papua “segera dihentikan!!“, karena hal itu malah membuat damai semakin jauh, dan terus menerus menciptakan dendam, kemarahan dan penderitaan bagi Orang Papua yang berlangsung puluhan tahun, generasi ke generasi. Apakah gereja-gereja di Indonesia melihat fakta ini?

Jika gereja-gereja melihat fakta Papua hari ini, apakah gereja akan menjalankan fungsi pastoral gerejawi (seperti 2015 PGLII melaksanakan ke GIDI di peristiwa tragedi Tolikara)? Ataukah menggunakan fungsi suara kenabiannya karena hal itu adalah bagian dari tugas gereja? Sebaliknya, jika gereja-gereja menutup mata atas fakta Papua hari ini, di manakah posisi gereja sebenarnya? Injil hadir di Tanah Papua yang kemudian disebut sebagai “surga kecil yang jatuh ke bumi” masih belum dinikmati Orang Papua!

“Tuhan Yesus mari dengarlah…!”

Salam Injili 

Pdt. DR. Ronny Mandang, MTh.

Ketua MAPER PGLII

Majelis Pertimbangan – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*