BERBEDA IMAN BUKAN ALASAN UNTUK BERTINDAK KEKERASAN
![]()
TUHAN menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang yang mencintai kekerasan. Mazmur 11:5 (TB2)
Indonesia dikenal sebagai negara yang paling suka berdoa dan kuat beragamanya. Rakyatnya sangat religius, begitu yang kerap diungkap oleh negara-negara lain di dunia ini. Tentu saja hal seperti ini patut disyukuri. Namun, anggapan-anggapan seperti itu ternyata tidak selalu sesuai dengan fakta yang mengemuka di kehidupan sehari-hari. Sejarah kehidupan umat beragama yang seharusnya dibingkai dalam prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa dan Bhinneka Tunggal Ika justru kerap tercemar dengan perilaku umat beragama yang malah mencintai kekerasan!
Kemerdekaan Republik Indonesia belum mencapai usia ratusan tahun, 100 tahun pun belum, namun pelarangan pendirian rumah ibadah umat Kristen, perusakan tempat-tempat yang dipakai berdoa atau retreat bagi beberapa orang saja, bom gereja, dan semua tindakan kekerasan terhadap umat Kristen tidak juga menunjukkan bahwa negeri ini digadang-gadang sangat religius. Apakah ajaran agama menafikan perbedaan yang adalah merupakan keniscayaan. Jika Kitab Suci mengatakan Allah menciptakan manusia, suku dan bahasa yang berbeda-beda, maka para penganut agama diberi pemahaman oleh Allah sendiri, bahwa perbedaan itu memang gagasan dari Allah sejak awal.
Apakah karena beda iman, merupakan alasan untuk berbuat kekerasan secara fisik yang brutal terhadap mereka yang dianggap tidak sama. Simbol-simbol keyakinan seperti salib Kristus jika tidak dihancurkan cukup banyak yang dibakar sekalian dengan gedung gereja.
Umat Kristen di Indonesia bukan hanya berpartisipasi merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, tetapi juga telah berjuang dan menjadi korban bahkan gugur sebagai orang yang mengharapkan perdamaian semesta di Tanah Airnya. Lihatlah ke taman makam pahlawan di situ selalu ada makam pejuang Kristen. Karena itu, sebuah pertanyaan kepada pemerintah yang diberi pedang oleh Allah untuk menghukum mereka yang mencintai kekerasan? Sikap yang selalu ambigu bahkan diam-diam membenarkan berbagai kekerasan beragama hanya membuat bangsa ini terus menerus terpecah belah.
Cara-cara menyelesaikan kekerasan yang dialami umat Kristen, bahwa semua itu adalah kesalahpahaman atau memang belum mengantongi ijin, sebenarnya adalah bentuk kesengajaan yang memang dirawat, agar yang merasa besar dapat terus berkuasa dan jumlahnya sedikit harus terus menjadi obyek kekerasan, persekusi dan sedapat mungkin pembantaian bahwa stigma Kristen itu musuh di negeri ini. Benarkah begitu Pemerintah?
Salam Injili,
Pdt. DR. Ronny Mandang, MTh.
Ketua MAPER PGLII
Majelis Pertimbangan – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia



Leave a Reply