BERHARAP SEKALIPUN SEMUA KENYATAAN BERLAWANAN

/script>
TETAP BERHARAP SEKALIPUN SEMUA KENYATAAN
BERLAWANAN DENGAN HARAPAN
“Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.” (Ibrani 11:8-9)
Kehidupan beriman Abraham menjadi teladan bagi orang yang percaya kepada Kristus. Memperhatikan tindakan Abraham untuk berangkat ke negeri yang dijanjikan akan menjadi milikinya, padahal ia tidak tahu tempat mana yang akan ia datangi, sangat bertentangan dengan pemikiran-pemikiran kekinian kita. Abraham berangkat dan akhirnya diam di negeri yang dijanjikan itu hanya karena iman.
Tentu iman Abraham dilandasi karena ia mengenal siapa Allah yang memanggilnya. Allah adalah maha tahu dan berdaulat, yang berkuasa mewujudkan segala sesuatu. Ketika Ia berfirman dan ketika Ia berjanji, Firman dan janjiNya itulah yang menjadi dasar Abraham berharap.
Ketika ia menanti janji Allah bahwa ia akan mendapat keturunan, walaupun kenyataannya ia sudah tua dan Sara, isterinya dalam keadaan telah mati haid, ia tetap beriman dan berharap.
Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” (Kej. 15:6)
Teladan kehidupan iman Abraham adalah bahwa ia tetap berharap, sekalipun ia tidak ada dasar untuk berharap. “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, …” (NIV: Against all hope, Abraham in hope believed) (Rom. 4:18) Bahkan Abraham tetap percaya dan berharap, sekalipun semua kenyataan yang ia alami berlawanan dengan apa yang ia harapkan. Dan kenyataannya bahwa apa yang diharapkan Abraham semuanya terjadi. Walaupun mendiami tanah perjanjian tidak ia alami dalam kehidupannya. Hanya keturunannya mendiaminya.
Belajar dari pengalaman hidup Abraham, maka sudah seharusnya kita meletakkan harapan kita pada dasar bahwa Allah yang berdaulat berkuasa mewujudkan segala sesuatu. Ketika Ia berfirman dan ketika Ia berjanji, Firman dan janjiNya itulah yang menjadi dasar kita meletakkan harapan kita.
Kita tidak dapat menaruh harapan kita hanya di atas hal-hal yang nyata yang kita alami sekarang, karena kenyataan di hari-hari mendatang dapat berbeda sekali dengan kenyataan sekarang. berharap sekalipun semua kenyataan berlawanan.
Rancangan Tuhan atas kehidupan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus adalah rancangan damai sejahtera bukan rancangan yang buruk atau jahat.
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan (Ibrani: ra’ = buruk atau jahat), untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yer. 29:11)

“Teruslah Bersekutu dan Memberitakan Injil!”

READ  Gen Z Menemukan Pasangan Romantis Dalam Hubungan Virtual

Pdt. Tommy Lengkong, MTh.

Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*