Gereja-Gereja Menimbang Program Makan Bergizi Gratis

/script>
Jakarta, legacynews.id – Masih banyak warga gereja yang bertanya-tanya soal Makan bergizi Gratis. Mengapa Presiden Prabowo Subianto begitu kuat tekadnya untuk melaksanakan program ini diseluruh Indonesia? Pemerintah telah menganggarkan di APBN 2026 untuk pemenuhan gizi nasional sebesar 268 Triliun, dan di tahun berikutnya (2027), naik menjadi 375 Triliun untuk 85 juta anak dan Ibu hamil.
Sampai kapan program raksasa ini akan bertahan ? Apakah bisnis ini menguntungkan dengan anggaran Rp 15.000/per org siswa per hari? Benarkah satu dapur dapat melayani 3.000 siswa per hari effektif dilaksanakan? Apa persiapan-persiapan yang harus dilakukan oleh orang yang berminat terjun dibidang usaha ini? Berapa modal yang diperlukan untuk memulai usaha ini ? Apa risiko-risikonya? Bagaimana agar tidak terjadi keracunan? Masih adakah peluang bagi Warga Gereja untuk ikut berpartisipasi di pengadaan MBG? sejumlah pertanyaan tercuat, tentu gereja-gereja menimbang Program Makan Bergizi Gratis apakah baik untuk di kerjakan bersama-sama atau tidak.
Bagi umat Kristiani memberi makan gratis bukan hal baru, Alkitab mengkisahkan Yesus memberi makan 5000 orang tercatat dalam Injil Matius 14:13-21, Markus 6:30 -44, Lukas 9:10-17, Yohanes 6:1-13
Bertempat di Grha Bethel, Jalan Jend. Ahmad Yani Jakarta, Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dilaksanakan 30 Sept 2025, sebuah inisiatif revolusioner yang digagas oleh Pimpinan Aras Gereja Nasional bersama Yayasan Indonesia Berdoa Sinergi.
Sosialisasi dipaparkan oleh  Dr. Ir. Tigor Pangaribuan, Deputi Sistem dan Tata Kelola MBG. Bahwa MBG bukan hanya program sosial, melainkan investasi strategis untuk menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. SPPG hadir sebagai lokomotif ekonomi, membuka peluang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam penyediaan makanan bergizi. Berbagai pertanyaan diatas terjawab dengan presentasi yang komprehensip, semua sudah ada regulasi dan prosedur baku yang harus dipatuhi oleh yayasan dan Dapur penyelenggara.
Pdt. Darwin Darmawan, M.Th. Sekretaris Umum PGI, membakar semangat hadirin dengan seruan untuk menjadikan gereja sebagai agen perubahan. “Kontribusi warga gereja dalam MBG adalah bukti nyata bahwa pelayanan sosial adalah wujud cinta tanah air yang sesungguhnya!, gereja menjadi garam” tegasnya.
mengingatkan bahwa kesuksesan MBG bergantung pada tata kelola yang transparan dan akuntabel. “Dukungan warga gereja akan semakin optimal jika program ini dijalankan dengan profesionalisme dan integritas tinggi,” ujarnya.
Pelaksanaan MBG dan SPPG berlandaskan pada regulasi yang kokoh, mulai dari UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan hingga Peraturan Menteri Kesehatan terkait standar gizi anak. pentingnya kepatuhan terhadap aturan agar program ini memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Dengan alokasi anggaran mencapai Rp335 triliun dari APBN 2026, MBG menjadi bukti komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. SPPG membuka pintu bagi warga gereja dan masyarakat untuk mengelola dapur sehat secara profesional, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan.
Seorang pendeta yang hadir dalam sosialisasi mengungkapkan antusiasmenya. “Ini adalah kesempatan luar biasa untuk memastikan anak-anak mendapatkan gizi yang layak sekaligus berkontribusi pada program pemerintah,” katanya dengan semangat.
Acara ini menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan, gotong royong, dan kolaborasi lintas sektor. Keterlibatan aktif masyarakat dan program TANPA KORUPSI adalah kunci untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.
Cecilia T.A. Sianawati, S.H., mengajak seluruh masyarakat untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi bagian dari solusi. “Partisipasi masyarakat di MBG adalah wujud iman dan nasionalisme yang diterjemahkan menjadi pelayanan sosial, pendidikan, dan ekonomi,” tegasnya.
Kegiatan di moderatori Martin Hutabarat, SH. Wakil Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR RI/ Pembina Partai Gerindra dan MC: Dr. Antonius Natan, dari Indonesia Berdoa/ Ketua PEWARNA Indonesia.
Dibarisan depan duduk Ketua PGLII Pdt. Prof. Dr. Irwan Wijaja hadir bersama dengan Jemaat beliau yang lakukan presentasi success story Dapur MBG di Kepri. Terlihat pula Pdt. Dr. Jason Balompapueng Ketum PGPI dan Dr. Eliver Rajaguguk, tampak beberapa ketua sinode hadir dari berbagai gereja, terlihat juga mantan Kapolda Kalbar Irjen Pol (purn) Erwin Tobing beserta ibu yang juga sudah mengelola Dapur Gizi Kemala Bhayangkari.
Dengan membuka pintu bagi seluruh warga, MBG dan SPPG menjadi program nasional yang inklusif, adil, dan memberikan peluang nyata bagi masyarakat untuk berperan aktif membangun bangsa. Inilah saatnya untuk bergerak bersama, menciptakan Indonesia yang sehat, cerdas, dan sejahtera!
Indonesia merupakan negara ke 120 yang menyelenggarakan Makan Bergizi Gratis. yang mengawali Inggris, Jerman, India, Malaysia, Brasil, Jepang, Tiongkok telah melaksanakannya jauh sebelumnya. Indonesia pasti bisa! Perlu dicermati pelaksanaan wajib mengikuti prosedur standar BGN yang sudah ditetapkan dan TANPA KORUPSI, program diawal perlu fokus kepada daerah yang membutuhkan. penerapan Good Corporate Governence mutlak dilakukan dengan audit mutu yang terus menerus digalakkan. Maka mutu gizi yang diberikan akan terjamin dan pasti tidak ada yang keracunan.
Ada pepatah Tiongkok: Ikan busuk selalu dari kepalanya. Jika pemimpin tertinggi bersih, yang dibawahnya mengikuti, oleh Prabowo Subianto, dikutip dari X . Mari kerjakan MBG dan SPPG dengan KASIH dan TANPA KORUPSI

Indonesia tanah airku, aku berbakti, aku mengabdi.

READ  Gereja Awal Menyatakan Bahwa Aborsi Sebagai Kejahatan

 

Pro Ecclesia Et Patria

Antonius Natan
Dosen | Ketua Pewarna Indonesia| Ketua Komisi Infokom PGLII

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*