Gereja Tidak Dipanggil Untuk Menjadi Supermarket Rohani (1)

/script>

Jakarta, legacynews.id – Gereja bukan pusat layanan konsumen rohani. Gereja adalah komunitas murid Kristus. Jemaat datang bukan hanya untuk dilayani, tetapi untuk menyembah Allah, dibentuk oleh firman, diperlengkapi bagi pelayanan, dan diutus menjadi saksi.

Budaya konsumerisme tidak berhenti di pusat belanja. Ia masuk ke rumah, sekolah, media sosial, bahkan gereja. Ia membentuk cara orang menilai segala sesuatu. Pertanyaannya sering sederhana. Apa manfaatnya bagi saya? Apakah saya nyaman? Apakah selera saya terpenuhi? Apakah layanan ini sesuai harapan saya?

Pertanyaan seperti itu tidak selalu salah. Gereja memang harus melayani dengan baik. Gereja perlu menyambut jemaat dengan ramah. Gereja perlu mengajar dengan jelas. Gereja perlu membangun tata kelola yang sehat. Namun gereja keliru jika hanya menjadi penyedia jasa rohani. Jemaat juga keliru jika hadir hanya sebagai pelanggan yang menilai khotbah, musik, fasilitas, dan program berdasarkan selera pribadi.

Bradley Eaves menyebut konsumerisme sebagai sistem pembentukan rohani tandingan. Menurutnya, pasar sedang membentuk jemaat setiap hari melalui kebiasaan, ritme, dan janji kepuasan yang terus diulang. Joseph Yoo memberi kalimat yang lebih langsung. Orang percaya tidak dapat sekaligus menjadi konsumen gereja dan murid Kristus.

Masalahnya bukan sekadar gaya ibadah. Masalahnya adalah identitas. Apakah jemaat mengenal dirinya sebagai murid Kristus atau pelanggan gereja? Apakah gereja membentuk orang percaya untuk taat kepada Kristus atau hanya menjaga agar mereka tetap puas?

Gereja dan Bahaya Mentalitas Konsumen

Mentalitas konsumen membuat gereja dipandang seperti tempat belanja. Jemaat memilih berdasarkan selera. Ia datang jika nyaman. Ia pindah jika kecewa. Ia menuntut program, tetapi tidak selalu mau terlibat. Ia menganggap persembahan sebagai pembayaran layanan. Ia melihat pemimpin gereja sebagai penyedia jasa keagamaan.

READ  Gelombang Keprihatinan; Luka di Tengah Bangsa

Sikap ini berbahaya. Ia membuat jemaat pasif. Ia melemahkan komitmen. Ia mengurangi makna ibadah. Ia membuat gereja sibuk mempertahankan kepuasan internal, tetapi lupa kepada misi Allah di dunia.

Roma 12:1 memberi arah yang berbeda. Rasul Paulus berkata, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Ibadah sejati tidak berhenti pada kehadiran di gedung gereja. Ibadah sejati mencakup tubuh, waktu, pikiran, pekerjaan, keluarga, talenta, uang, dan karakter.

Mentalitas Konsumen Rohani

Identitas Murid Kristus

Datang untuk menerima layanan Datang untuk menyembah dan dibentuk
Menilai gereja dari selera pribadi Menguji hidup berdasarkan firman Allah
Bertanya tentang hak Bertanya tentang panggilan
Melihat persembahan sebagai transaksi Melihat hidup sebagai persembahan
Mudah mundur saat tidak nyaman Setia bertumbuh dalam komunitas
Menunggu program Terlibat dalam pelayanan

Gereja perlu jujur membaca gejala ini. Jemaat juga perlu jujur memeriksa hati. Khotbah yang menegur bukan layanan yang buruk. Pemuridan yang menuntut disiplin bukan kegagalan pastoral. Ajakan melayani bukan beban tambahan. Semua itu bagian dari proses menjadi murid.

Gereja sebagai Komunitas Pembentukan

Gereja bukan ruang hiburan rohani. Gereja adalah ruang pembentukan. Di dalam gereja, firman mengoreksi pikiran. Doa menata kerinduan. Perjamuan Kudus mengingatkan anugerah. Persekutuan melatih kasih. Pelayanan membentuk kerendahan hati. Penginjilan menajamkan ketaatan.

Marva J. Dawn menegaskan bahwa ibadah Kristen membentuk umat menjadi komunitas misi. Gereja bukan “vendor” barang dan jasa rohani. Gereja adalah tubuh yang diutus untuk hidup sebagai kesaksian di dunia. Kalimat ini penting. Ibadah tidak boleh berhenti pada rasa puas setelah kebaktian. Ibadah harus menghasilkan hidup yang taat.

READ  Indonesia Akan Memiliki Basilika Pertama di Ibu Kota Nusantara

Karena itu gereja perlu mengubah pertanyaan. Bukan hanya, “Apakah jemaat puas?” Melainkan, “Apakah jemaat bertumbuh sebagai murid?” Bukan hanya, “Apakah program ramai?” Melainkan, “Apakah hidup jemaat memuliakan Allah?” Bukan hanya, “Apakah orang datang?” Melainkan, “Apakah orang diutus?”

Gereja yang sehat tidak hanya ramai. Gereja yang sehat membentuk murid. Gereja tidak dipanggil untuk menjadi supermarket rohani. Gereja dipanggil untuk menjadi tubuh Kristus yang menyembah, belajar, melayani, memuridkan, dan bersaksi.

Pertanyaan bagi kita sederhana, tetapi tajam. Apakah kita datang ke gereja hanya untuk dilayani? Atau kita datang untuk dibentuk menjadi murid yang melayani?

Pada seri berikutnya, kita akan melihat dasar biblika bahwa jemaat diciptakan dan dipanggil untuk memuliakan Allah.

 

Pro Ecclesia Et Patria

Antonius Natan
Dosen STT Kadesi Yogjakarta | Ketua Komisi Infokom PGLII

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*