Fenomena NEET di Inggris dan Global (1999–Sekarang):
Demografi dan Kebijakan Sosial
Jakarta, legacynews.id – Istilah NEET berarti Not in Education, Employment, or Training. (Tidak sedang menempuh pendidikan, bekerja, atau pelatihan) Istilah ini masuk kuat ke kebijakan publik Inggris melalui laporan pemerintah Social Exclusion Unit tahun 1999, Bridging the Gap, yang menyoroti anak muda usia 16 sampai 18 tahun yang tidak sekolah, tidak bekerja, dan tidak ikut pelatihan.1 Sejak itu, NEET menjadi indikator penting untuk membaca krisis transisi dari sekolah menuju dunia kerja.
Masalah NEET tidak boleh dipahami sebagai masalah kemalasan pribadi. Data menunjukkan masalah ini bersifat struktural. Office for National Statistics mencatat bahwa pada Januari sampai Maret 2026 terdapat sekitar 1,012 juta anak muda usia 16 sampai 24 tahun di Inggris yang berstatus NEET, atau 13,5 persen dari kelompok usia itu.2 Angka ini memperlihatkan bahwa sebagian anak muda tidak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga kehilangan jalur belajar, pelatihan, relasi sosial, dan harapan masa depan.
Secara demografis, NEET berkaitan dengan usia produktif. Negara membutuhkan anak muda yang sehat, terampil, dan aktif. Jika banyak anak muda keluar dari pendidikan dan pasar kerja, maka bonus demografi berubah menjadi beban sosial. Partisipasi angkatan kerja muda turun. Mobilitas sosial melemah. Keluarga menanggung tekanan ekonomi dan emosional yang lebih berat. Ayah harus menjadi pemimpin keluarga yang bijaksana.
Teori eksklusi sosial membantu menjelaskan gejala ini. Anak muda NEET sering terputus dari institusi utama masyarakat, yaitu sekolah, pekerjaan, pelatihan, komunitas, dan layanan publik. Mereka tidak selalu menolak bekerja. Banyak dari mereka menghadapi hambatan nyata, seperti pendidikan rendah, kesehatan mental, tanggung jawab keluarga, disabilitas, diskriminasi, atau pasar kerja yang tidak ramah bagi pemula. ILO menilai NEET lebih tepat daripada angka pengangguran muda karena NEET mencakup penganggur dan mereka yang tidak aktif mencari kerja.3
Faktor penyebab NEET saling terkait. Dari sisi ekonomi, pasar kerja makin tidak stabil. Pekerjaan awal sering bersifat kontrak pendek, bergaji rendah, dan minim perlindungan. Dari sisi pendidikan, sebagian anak muda putus sekolah atau tidak memiliki akses pelatihan yang sesuai kebutuhan industri. Dari sisi sosial budaya, stigma membuat anak muda merasa gagal sebelum diberi kesempatan. Dari sisi psikologis, rasa percaya diri rendah dan alienasi sosial mendorong mereka menjauh dari ruang publik. Dari sisi kebijakan, program transisi sekolah ke kerja sering lambat, tidak terintegrasi, dan kurang menjangkau kelompok rentan. Gereja dan Keluarga perlu menyadari hal ini. Ayah perlu berperan mengarahkan anak-anaknya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Inggris. ILO memperkirakan pada 2025 ada sekitar 262 juta anak muda usia 15 sampai 24 tahun di dunia yang berstatus NEET, atau sekitar satu dari empat anak muda.3 Di Uni Eropa, Eurostat mencatat angka NEET usia 15 sampai 29 tahun turun menjadi 11,0 persen pada 2025, dari 15,2 persen pada 2015. Uni Eropa menargetkan angka ini turun ke 9 persen pada 2030.4
|
Negara |
Bentuk Fenomena | Respons Kebijakan |
Catatan Kritis |
| Inggris | NEET lahir dari kebijakan sosial 1999 | Pemantauan statistik dan program transisi kerja | Angka 2026 masih tinggi, 13,5 persen usia 16 sampai 24 tahun |
| Jepang | Freeter dan hikikomori | Dukungan kerja muda dan layanan sosial | Masalah kerja tidak tetap bertemu isolasi sosial |
| Korea Selatan | Sampo Generation | Program kerja muda dan bantuan sosial | Tekanan biaya hidup melemahkan harapan menikah, bekerja, dan berkeluarga |
| Uni Eropa | NEET sebagai indikator sosial | Youth Guarantee dan target 9 persen pada 2030 | Kebijakan lebih terukur, tetapi hasil berbeda antarnegara |
| Global | 262 juta anak muda NEET pada 2025 | Agenda SDG 8.6 tentang kerja layak bagi pemuda | Ketimpangan gender, wilayah, dan kelas sosial tetap kuat |
Dari perspektif ekonomi-politik, NEET menunjukkan bahwa globalisasi tidak selalu menciptakan jalan masuk yang adil bagi anak muda. Teknologi tumbuh cepat, tetapi pelatihan tidak selalu mengikuti. Perusahaan menuntut pengalaman, tetapi pemula belum diberi ruang belajar. Negara menuntut produktivitas, tetapi belum selalu menyediakan jembatan yang kuat.
Bagi media populer Kristen, isu NEET perlu dibaca dengan mata iman dan nalar sosial. Setiap anak muda memiliki martabat sebagai gambar Allah. Karena itu, gereja, sekolah, keluarga, negara, dan dunia usaha perlu membangun ekosistem pemulihan. Anak muda tidak cukup diberi nasihat. Mereka perlu didampingi, dilatih, diberi akses, dan dipercaya. Mari para Ayah mulai perhatikan anak-anak dirumah
Kesimpulannya, NEET adalah indikator krisis sosial-ekonomi global. Ia menyingkap hubungan rapuh antara pendidikan, pekerjaan, keluarga, kesehatan mental, dan kebijakan publik. Jika negara hanya menyalahkan individu, masalah akan berulang. Jika negara, gereja, dan masyarakat membangun jalur pendidikan, pelatihan, konseling, dan kerja layak, maka NEET dapat berubah dari tanda krisis menjadi panggilan pelayanan sosial.
Pro Ecclesia Et Patria


Leave a Reply