Hikikomori; Ketika Remaja Menarik Diri dari Kehidupan Sosial

/script>

Hikikomori adalah keadaan ketika remaja atau orang muda menarik diri dari kehidupan sosial, mengurung diri di rumah, menolak sekolah, pekerjaan, pertemanan, dan interaksi keluarga selama sedikitnya enam bulan. Fenomena ini mulai dikenal luas di Jepang pada 1990-an melalui perhatian psikolog dan psikiater Tamaki Saitō. Studi lintas negara kemudian menunjukkan bahwa hikikomori tidak hanya terjadi di Jepang, tetapi juga muncul di berbagai budaya lain.

Bagi orang tua, hikikomori tidak boleh langsung dibaca sebagai kemalasan, pembangkangan, atau kurang iman. Banyak kasus terkait kesepian, kecemasan sosial, depresi, luka relasi, tekanan akademik, rasa gagal, atau ketakutan menghadapi dunia luar. Karena itu, respons pertama orang tua bukan marah, mempermalukan, atau membandingkan anak. Respons pertama adalah hadir, mendengar, dan memahami.

Iman Kristen memberi dasar yang kuat. Allah berkata, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja” (Kejadian 2:18). Manusia diciptakan untuk relasi. Namun, ketika anak menarik diri, orang tua perlu meneladani Kristus yang mendekati orang terluka dengan kasih, bukan vonis. Galatia 6:2 berkata, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu.” Ayat ini mengajak keluarga menjadi tempat aman, bukan ruang penghakiman.

Dalam hal ini, peranan seorang bapa sangat penting. Ayah tidak hanya mencari nafkah. Ayah juga mendidik, merawat, dan mengayomi. Efesus 6:4 menegaskan, “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (TB). Kolose 3:21 berkata, “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya” (TB). Amsal 22:6 juga mengingatkan, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya” (TB). Ayah yang hadir dengan kasih dapat menolong anak merasa aman untuk berbicara. Ayah yang keras tanpa empati dapat membuat anak makin menutup diri.

READ  Aktris Marvel Memiliki Teman Yang Mencoba-coba Okultisme

Orang tua dapat memulai dengan langkah sederhana. Ketuk pintu dengan hormat. Bicara singkat. Hindari ceramah panjang. Tanyakan kebutuhan anak. Dengarkan sebelum menjawab, sesuai prinsip Amsal 18:13. Jika anak menunjukkan gejala depresi, keinginan bunuh diri, kekerasan, atau isolasi panjang, segera cari bantuan konselor, psikolog, psikiater, pendeta, atau komunitas gereja yang sehat. Dukungan keluarga terbukti menjadi bagian penting dalam proses pemulihan hikikomori.

Gereja juga perlu peka. Anak yang mengurung diri bukan proyek koreksi, melainkan pribadi yang perlu diterima. Roma 15:7 berkata, “Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita.” Dengan kasih, disiplin, doa, dan bantuan profesional, keluarga dapat membuka jalan pulang bagi anak.

Pro Ecclesia Et Patria

Antonius Natan
Fasilitator Nasional Bapa Sepanjang Kehidupan| Ketua Komisi Infokom PGLII

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*