/script>
JANGAN IRI DENGAN KEHIDUPAN SEMU ORANG FASIK
YANG NAMPAK SEJAHTERA
Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya… Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya. (Mazmur 73:1, 28)
Jika memperhatikan pembuka dan penutup Mazmur ini ada satu kata penting yaitu kata “baik” (Ibr: “tob”) dan kata baik ini dikaitkan dengan Allah.
Ayat 1, Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, …
Ayat 28, Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, … (timbul pertanyaan, mengapa tidak ada kata baik?) Jika membaca terjemahan NIV, “But as for me, _it is good to be near God_. I have made the Sovereign LORD my refuge; I will tell of all your deeds.” Jadi terjemahan yang tepat adalah: Tetapi aku, *adalah “baik” dekat pada Allah*; aku menaruh… dst.
Itu sebabnya Mazmur 73 ini disebut Mazmur iman, karena pemazmur menuliskan pembukaan Mazmur ini dengan “Allah itu baik” dan menutupnya dengan “adalah baik dekat pada Allah.”
Sementara suatu realita yang dilihat oleh pemazmur berkaitan dengan orang-orang fasik (dari ayat 3-12) yang keadaan mereka mujur-mujur saja; mereka tidak sakit malahan sehat dan gemuk; mereka tidak mengalami kesusahan; mereka menyombongkan diri dan memakai kekerasan; mereka membully dan memeras; mereka penuh dengan kata-kata hujat; orang-orang menyukai dan mencari-cari mereka; mereka menghina Allah; harta mereka bertambah-tambah dan kehidupan mereka senang.
Realita di atas mempengaruhi pikiran pemazmur Asaf, sehingga ia hampir saja tergelincir dengan menganggap sia-sia mempertahankan _hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah_. (ayat 13)
Memang hal ini tidak mudah. Orang-orang beriman kadang ditarik dari dua sisi, yaitu ingin setia kepada Tuhan Yesus, tetapi karena kesulitan, kesusahan, penderitaan, maka mereka ingin berkompromi. Hati-Hati!
Namun ternyata kehidupan orang-orang fasik berakhir dengan : “Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan! Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina. (ayat 18 – 20)
Kesimpulannya, meskipun ada tanda-tanda kesejahteraan bagi orang-orang fasik, kita tidak perlu terpengaruh dan mengikuti cara hidup mereka. Bagi kita, menjaga hati kita tetap bersih, membasuh tangan kita dari kejahatan dan hidup setia kepada Tuhan Yesus, hal-hal ini adalah harga mati yang harus dipertahankan. Maka kita akan menikmati kebaikan-kebaikan Allah yang sejati. Hingga akhirnya kita akan berkata adalah “baik” dekat pada Allah. Kiranya Tuhan Yesus terus menguatkan kita.
JANGAN IRI DENGAN KEHIDUPAN SEMU ORANG FASIK
YANG NAMPAK SEJAHTERA
“Teruslah Bersekutu dan Memberitakan Injil!”
Pdt. Tommy Lengkong, MTh.
Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia


Leave a Reply