![]()
Jakarta, legacynews.id – Krisis identitas yang dialami gereja modern akibat budaya konsumerisme membutuhkan respons teologis dan praktis yang tegas. Setelah memahami fenomena jemaat sebagai customer dan konsekuensinya, kita harus kembali pada mandat esensial gereja. Transformasi dari mentalitas konsumen menuju pemuridan radikal adalah jalan keluar satu-satunya untuk memulihkan vitalitas gereja di era kontemporer.
Panggilan Kristus: Menjadi Murid
Yesus Kristus tidak pernah memanggil orang untuk menjadi penikmat layanan agama. Panggilan-Nya selalu bersifat radikal dan menuntut komitmen total. Dalam Lukas 9:23 (TB), Yesus menegaskan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Ayat ini meruntuhkan fondasi teologi kemakmuran dan mentalitas customer yang mendambakan kenyamanan tanpa pengorbanan.
Menjadi murid berarti bersedia belajar, berkorban, dan melayani. Kontras dengan sikap customer yang selalu menuntut hak, seorang murid berfokus pada penyerahan diri. Ilustrasi populer yang beredar di kalangan teolog menyindir tajam realitas ini dengan kalimat metaforis: “Yesus memanggil kita menjadi murid, bukan customer.” Pemuridan sejati membutuhkan kesediaan untuk kehilangan identitas lama demi dibentuk serupa dengan Kristus. Hal ini menuntut pergeseran dari orientasi menerima (receiving) menjadi memberi (giving) kehidupan bagi sesama.
Gereja sebagai Tempat Pemuridan
Gereja harus mereposisi dirinya. Gereja bukanlah supermarket rohani tempat orang memilih produk kerohanian sesuai selera, melainkan komunitas pengikut Kristus yang berjuang bersama. Fokus pelayanan harus dikembalikan pada pembelajaran firman yang mendalam, pertumbuhan iman yang holistik, dan pelayanan yang berdampak sosial. Praktik-praktik gerejawi harus diarahkan untuk melawan arus konsumerisme melalui liturgi yang menekankan pengorbanan dan solidaritas [1].
Peran gembala dan jemaat sangat krusial dalam membangun budaya pemuridan. Gembala harus berani menyampaikan kebenaran yang menantang, bukan sekadar khotbah yang menyenangkan telinga. Jemaat harus saling mendisiplinkan dalam kasih dan akuntabilitas. Amanat Agung dalam Matius 28:19-20 (TB) jelas memerintahkan kita untuk “pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku,” bukan sekadar menjadikan mereka pengunjung tetap gereja. Pesan ini harus menjadi panduan utama: Gereja bukan tempat belanja, tapi tempat mengikuti Kristus.
Jemaat Sebagai Customer vs Jemaat Murid Kristus
Kita harus segera mengubah pola pikir dari “customer” menjadi “murid”. Perubahan ini bukan sekadar pergantian istilah, melainkan transformasi ontologis (artinya perubahan mendasar dalam cara keberadaan atau hakikat sesuatu dipahami, bukan sekadar perubahan bentuk luar, tapi menyentuh inti atau esensi terdalam dari realitas) dalam cara kita beragama dan bergereja. Tujuan utama gereja adalah membentuk pengikut Kristus sejati yang memiliki integritas dan kapasitas untuk membawa perubahan di tengah masyarakat.
Mari kita melakukan refleksi mendalam. Apakah kita datang ke gereja untuk dilayani, atau untuk belajar melayani? Identitas kita sebagai umat pilihan Allah (1 Petrus 2:9) menuntut tanggung jawab yang besar. Integritas iman tidak diwariskan melalui fasilitas gereja yang mewah, tetapi ditanamkan melalui proses pemuridan yang konsisten. Mari kita tanam benih kemuridan hari ini agar gereja masa depan memanen generasi yang tahan uji dan setia pada panggilan Kristus.
Pro Ecclesia Et Patria

Leave a Reply