Jakarta, legacynews.id – Jemaat tidak dipanggil menjadi penonton pelayanan. Jemaat dipanggil menjadi pelayan. Kristus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Karena itu murid Kristus mengikuti jalan pelayanan yang rendah hati, setia, dan bertanggung jawab.
Markus 10:45 memberi dasar yang tajam. “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Kalimat ini membalik ukuran dunia. Kebesaran tidak diukur dari berapa banyak orang melayani kita. Kebesaran diukur dari kesediaan melayani dalam kasih.
Yesus tidak hanya mengajar pelayanan. Ia mempraktikkannya. Yohanes 13:14-15 mencatat Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Lalu Ia berkata, “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”
Pelayanan Kristen lahir dari teladan Kristus. Ia tidak berdiri di atas gengsi. Ia tidak mencari panggung. Ia tidak mengejar tepuk tangan. Ia menolong karena kasih. Ia setia karena panggilan. Ia rela rendah karena Kristus lebih dahulu merendahkan diri.
Gereja sebagai Tubuh yang Bekerja
Efesus 4:11-12 memberi desain pelayanan gereja. Kristus memberikan rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar “untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.”
Teks ini sangat penting. Pemimpin gereja tidak dipanggil untuk menggantikan semua pelayanan jemaat. Pemimpin gereja dipanggil untuk memperlengkapi jemaat. Jemaat bukan penonton. Jemaat adalah orang-orang kudus yang diperlengkapi bagi pekerjaan pelayanan.
Efesus 4:16 menegaskan bahwa tubuh Kristus bertumbuh melalui pelayanan semua bagiannya. Gereja sehat ketika setiap anggota bergerak sesuai karunia. Ada yang mengajar. Ada yang mendoakan. Ada yang menggembalakan. Ada yang mengelola administrasi. Ada yang melayani anak. Ada yang menolong yang miskin. Ada yang bersaksi di tempat kerja. Semua penting.
|
Pola Gereja Konsumen |
Pola Tubuh Kristus |
| Pemimpin melakukan semua hal | Pemimpin memperlengkapi jemaat |
| Jemaat menonton pelayanan | Jemaat mengambil bagian dalam pelayanan |
| Pelayanan diukur dari panggung | Pelayanan diukur dari kesetiaan |
| Karunia rohani diabaikan | Karunia rohani dipakai untuk membangun tubuh |
| Kritik lebih banyak daripada kontribusi | Koreksi disertai tanggung jawab dan keterlibatan |
Pelayanan sebagai Persembahan Hidup
Roma 12:1 menyebut tubuh sebagai persembahan yang hidup. Ini memberi arti luas pada pelayanan. Pelayanan tidak hanya terjadi di mimbar. Pelayanan terjadi dalam kunjungan kepada yang sakit, pendampingan anak muda, pengelolaan keuangan gereja yang bersih, penyambutan jemaat baru, pengajaran katekisasi, konseling keluarga, pelayanan media, dan kesaksian di masyarakat.
Pelayanan juga membutuhkan integritas. Orang yang melayani tidak boleh memakai pelayanan untuk mencari kuasa. Ia tidak boleh memakai jabatan gerejawi untuk memanipulasi orang. Ia tidak boleh membangun kelompok demi kepentingan pribadi. Pelayanan Kristen harus tunduk kepada Kristus.
1 Tesalonika 1:9 memberi gambaran pertobatan yang aktif. Jemaat Tesalonika berbalik dari berhala-berhala kepada Allah “untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar.” Pertobatan menghasilkan pelayanan. Orang yang mengenal Allah tidak berhenti pada status rohani. Ia bergerak melayani Allah.
Gereja perlu membuat jalur pelayanan yang jelas. Jemaat baru perlu disambut. Jemaat yang bertumbuh perlu dilatih. Jemaat yang memiliki karunia perlu diarahkan. Jemaat yang lelah perlu dirawat. Jemaat yang jatuh perlu dipulihkan. Semua ini membutuhkan sistem pemuridan dan budaya kasih.
Gereja juga perlu mengajar bahwa pelayanan bukan hukuman. Pelayanan adalah kehormatan. Namun pelayanan tidak boleh dipaksakan tanpa pembinaan. Gereja perlu memperlengkapi, mendampingi, mengevaluasi, dan menjaga kesehatan rohani para pelayan.
Jemaat melayani karena Kristus lebih dahulu melayani. Jemaat tidak dipanggil untuk menjadi pelanggan gereja. Jemaat dipanggil menjadi tubuh Kristus yang bekerja dalam kasih. Gereja bertumbuh bukan karena sedikit orang kelelahan, tetapi karena seluruh anggota mengambil bagian sesuai panggilan.
Pertanyaan bagi kita jelas. Di bagian mana kita sedang melayani? Karunia apa yang Allah percayakan? Siapa yang sedang kita bangun melalui pelayanan kita?
Pada seri berikutnya, kita akan membahas tugas jemaat untuk memuridkan dan memberitakan Injil.
Pro Ecclesia Et Patria


Leave a Reply