/script>
“Kembalilah, hai Anak-anak yang murtad! Aku akan menyembuhkan engkau dari murtadmu.”
“Inilah kami, kami datang kepada-Mu, sebab Engkaulah TUHAN, Allah kami.” (Yeremia 3:22)
Allah senantiasa memanggil orang-orang tersesat untuk kembali kepadaNya. Dia memanggil mereka dengan kasih sayang dan lemah lembut, seperti Kristus memanggil orang-orang yang letih lesu dan berbeban berat datang kepada-Nya. (Mat. 11:28, 29)
Panggilan yang demikian datang pada umat pilihan Tuhan. Allah merindukan langkah mereka kembali kepadaNya. Karena umatNya telah menghianati Allah, bahkan walaupun telah ada pertobatan pada mereka, tetapi pertobatan mereka adalah pertobatan yang pura-pura. Hal ini dapat dilihat dalam Yeremia 3:4-5, “Bukankah baru saja engkau memanggil Aku: Bapaku! Engkaulah kawanku sejak kecil! Untuk selama-lamanyakah Ia akan murka atau menaruh dendam untuk seterusnya? Demikianlah katamu, namun engkau sedapat-dapatnya melakukan kejahatan.”
Oleh karena itu Allah memanggil mereka lagi: “Kembalilah, hai Anak-anak yang murtad!” Tanggapan mereka adalah “Inilah kami, kami datang kepada-Mu, sebab Engkaulah TUHAN, Allah kami.”Ini adalah suatu jawaban yang langsung dan cepat, tanpa ditunda-tunda. Mereka tidak mengatakan, “Kami akan datang sesudah ini,” melainkan “Kami datang (sekarang). Kami tidak butuh waktu untuk mempertimbangkannya lagi.” Suatu keputusan yang sangat dinanti Allah. Jika memahami istilah “kami datang” maka hal ini adalah suatu tindakan “berbalik arah”. Karena sebelumnya arah mereka adalah membelakangi Tuhan. Mereka menghianati Tuhan.
Ketika mereka berkata, “kami datang kepadaMu”, mereka datang dengan menyerahkan diri mereka kepada Allah sebagai Allah mereka. “Engkaulah TUHAN, Allah kami.” Mereka datang dengan melepaskan segala andalan masa lalu yaitu bukit-bukit pengorbaan. “Sesungguhnya, bukit-bukit pengorbanan adalah tipu daya, yakni keramaian di atas bukit-bukit itu.” (ay. 23a) Mereka datang dengan pernyataan bahwa mereka hanya bergantung Allah. “Hanya pada TUHAN, Allah kita, ada keselamatan Israel.” (ay. 23b) Dia adalah TUHAN, dan hanya Dialah yang dapat menyelamatkan. Dalam PB, hal keselamatan adalah berkaitan dengan karya keselamatan yang agung, yang dikerjakan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Itulah keselamatan yang besar dari TUHAN.
Mereka juga mengatakan: “Tetapi berhala yang memalukan itu menelan segala hasil jerih lelah nenek moyang kita…” Jika kita memperhatikan tentang orang yang sungguh-sungguh menyesal, maka penyesalan mereka itu dikarenakan kesadaran mereka bahwa dosa itu memalukan. Dosa yang sebelumnya mereka cintai seperti berhala, sekarang mereka sebut sebagai hal yang memalukan. Mereka merasa diri mereka diselumuti dengan noda aib, karena telah berdosa kepada Tuhan. “… dan biarlah noda kita menyelimuti kita, sebab kita telah berdosa kepada TUHAN, Allah kita” (ay. 25) Ungkapan-ungkapan mereka penuh bahasa penyesalan karena mereka telah berdosa, dan mereka mau datang kepada Tuhan. Namun harus dipahami juga bahwa berdosa itu bukan hanya perbuatan dosa saja, tetapi tiap orang berdosa, oleh karena keturunan pendosa. Sejak awal manusia sudah ada dalam jalan dosa, dan sampai hari ini manusia masih terus di dalam dosa.
Itulah sebabnya, sampai hari ini Allah Bapa dalam Tuhan Yesus Kristus menantikan kedatangan manusia-manusia berdosa kepadaNya. Ia mengundang mereka: “Kembalilah, hai Anak-anak yang murtad! Aku akan menyembuhkan engkau dari murtadmu.”
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy Lengkong, MTh.
Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia


Leave a Reply