Pdt. Tommy Lengkong dan Habib Jindan di Gathering PGLII

Pdt. Tommy O. Lengkong dan Habib Jindan Ajak Perkuat Persaudaraan Lintas Iman di Gathering PGLII DKI Jakarta
Bogor, legacynews,id – Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th., bersama tokoh Muslim Habib Jindan Bin Novel Bin Salim hadir dalam Gathering PGLII Pengurus Wilayah DKI Jakarta yang digelar pada 6–8 Agustus 2025 di Taman Bukit Palem Resort, Pancawati, Caringin, Bogor, Jawa Barat.
Pdt. Tommy O. Lengkong dan Habib Jindan Ajak Perkuat Persaudaraan Lintas Iman di Gathering PGLII DKI Jakarta. Acara bertema “Integrity for Him” ini diikuti oleh gembala sidang, koster, dan guru sekolah minggu dari seluruh wilayah DKI Jakarta, serta dihadiri pengurus daerah dari Jakarta Selatan, Utara, Timur, dan Barat.
Dalam sambutannya, Pdt. Tommy O. Lengkong menegaskan pentingnya membangun kesamaan di tengah perbedaan. Ia mengingatkan bahwa terlalu fokus pada perbedaan hanya akan memperuncing jarak antar umat.
“Kita harus mampu mencari persamaan, bukan sekadar membicarakan perbedaan. Memang, dalam keyakinan kita tentu ada perbedaan, tetapi jangan hanya melihat dari sisi itu. Kita hidup di tengah masyarakat yang beragam, dan persamaanlah yang dapat mempersatukan kita,” ujar Pdt. Tommy.
Pesan ini menjadi penegasan bahwa semangat pelayanan dan persaudaraan yang diusung PGLII tidak terhenti pada lingkup internal gereja, tetapi juga menjangkau relasi lintas iman.
Pada sesi Dialog Moderasi Beragama tanggal 7 Agustus, Habib Jindan Bin Novel Bin Salim memberikan paparan yang hangat dan sarat nilai toleransi. Ia menekankan bahwa Nabi Isa memiliki peran besar dalam iman Islam, dan bahwa Islam tidak dapat dilepaskan dari sosok Nabi Isa.
“Iman Islam tidak lengkap tanpa Nabi Isa. Generasi demi generasi diutus nabi-nabi sesuai zamannya, dan agama mengajarkan kita untuk memuliakan orang lain,” ungkap Habib Jindan.
Ia juga menegaskan bahwa kebaikan sejati tidak boleh diiringi pamrih atau syarat berpindah agama.
“Perbedaan bukan alasan untuk perpecahan,” tegasnya.
Habib Jindan kemudian membagikan dua kisah sejarah toleransi dalam Islam. Pertama, peristiwa ketika Rasulullah SAW menyambut rombongan pendeta di Madinah dan menyediakan ruang di bagian belakang masjid untuk mereka melaksanakan ibadah. Kedua, kisah Khalifah Umar bin Khattab yang menolak salat di dalam Gereja Makam Kudus bukan karena larangan agama, tetapi demi menjaga agar tempat suci itu tetap menjadi milik umat Kristen dan tidak diklaim di masa depan.
“Ini adalah bentuk moderasi beragama yang luar biasa dan patut menjadi teladan,” ujar Habib Jindan.
Paparan tersebut disambut hangat oleh Pdt. Tommy O. Lengkong. Menurutnya, nilai yang disampaikan Habib Jindan sejalan dengan semangat PGLII dalam membangun persaudaraan lintas iman yang tulus dan saling menghargai.
“Kita perlu hidup di tengah keberagaman dengan kesadaran akan persamaan yang kita miliki, tanpa meniadakan perbedaan yang ada,” kata Pdt. Tommy.
Gathering PGLII DKI Jakarta 2025 diakhiri dengan pemutakhiran data penerima Bantuan Operasional Tempat Ibadah (BOTI) tahun 2026. Selama tiga hari, acara berlangsung dalam suasana akrab dan penuh semangat kebersamaan. (APM)
READ  7.000 Orang Buat Keputusan Mengikut Kristus Di Harvest Crusade

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*