
Bahkan takdirnya sebagai pendeta Kristen tidak ditentukan karena Cho dilahirkan dalam keluarga Buddhis. Hanya melalui seorang teman Kristen dari saudara perempuannya yang memberi tahu dia tentang Yesus, dia menjadi percaya.
Sementara tahun-tahun mudanya tidak istimewa, dia pintar dan belajar bahasa Inggris setelah berteman dengan tentara di pangkalan militer Amerika di dekat sekolahnya.
Kemampuan bahasa Inggrisnya terbukti berperan penting bagi perkembangan imannya saat ia melayani sebagai penerjemah untuk misionaris Assemblies of God Kenneth Tize.
Setelah ini, dia merasakan panggilan untuk menjadi seorang pendeta dan pada tahun 1956, pada usia 20 tahun, dia mendaftar di Seminari Teologi Injil Sepenuh Majelis Allah.
Pelayanannya juga memiliki permulaan yang sederhana, dimulai bukan di gereja besar tetapi sebuah tenda sederhana di Seoul.
Dia merinci perjalanan imannya dalam salah satu bukunya yang paling populer, “Dimensi Keempat”, di mana dia memuji keberhasilannya dalam pelayanan karena doa yang dijawab.
Billy Wilson, presiden Universitas Oral Roberts di Oklahoma, termasuk di antara mereka yang mengingat Cho.
“Saya turut berduka cita atas meninggalnya Dr. David Yonggi Cho, salah satu pemimpin besar gerakan Spirit-Empowered,” katanya.
“Pelayanan, tulisan, dan kebapaannya memberkati jutaan orang. Warisan dan pengaruh Dr. Cho akan berlanjut selama beberapa generasi.”



Leave a Reply