/script>
INTEGRITAS PELAYAN:
TRANSPARAN DI HADAPAN ALLAH DAN MANUSIA
Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang. Bagi Allah hati kami nyata dengan terang dan aku harap hati kami nyata juga demikian bagi pertimbangan kamu. 2 Korintus 5:11
Integritas seseorang menjadi hal yang sangat penting dalam pelayanan. Dalam ayat di atas kita dapat meneladani kehidupan Rasul Paulus yang penuh integritas dalam pelayanannya. Paulus menunjukkan tentang dirinya, bagaimana ia hidup transparan di hadapan Allah dan manusia. juga ia hidup secara terbuka di hadapan orang Korintus.
Ungkapan Paulus: “Bagi Allah hati kami nyata dengan terang dan aku harap hati kami nyata juga demikian bagi pertimbangan kamu.” NIV menterjemahkan: What we are is plain to God, and I hope it is also plain to your conscience.
Paulus menunjukkan integritas pelayanannya (dan kerasulannya) di hadapan Allah dan manusia. Ia tahu betul bahwa seseorang dapat menipu dirinya sendiri, tetapi untuk Allah ia tidak dapat memperlakukan demikian, karena tidak ada yang tersembunyi dari pandangan Allah. Dan sekaligus ia menampakkan juga hidup apa adanya atau asli (genuine) di mata orang lain.
Tidak ada yang ia tutup-tutupi atau sembunyikan tentang dirinya dari orang lain. F.F. Bruce dalam 1 and 2 Corinthians, NCB mengatakan, As Paul is (and will be) transparent before God, so he is likewise before men and women (Bruce, 206).
Paulus mengutarakan hal-hal di atas adalah dengan maksud mengarahkan jemaat Korintus untuk memandang pelayanannya sebagai pelayanan yang tulus, tidak palsu, dan berasal dari Allah, bukan pelayanan yang dibuat-buat. Dengan kata lain, jika Paulus dapat berdiri di hadapan Allah dengan hati nurani yang bersih, lalu apa yang harus ia sembunyikan atau tutupi di mata jemaat Korintus?
Seharusnya dalam kehidupan kita sebagai pelayan yang memberitakan Injil, seluruh hidup kita terbuka di hadapan Tuhan, bersamaan dengan itu terbuka juga di hadapan manusia. Agar orang memandang pelayanan kita sebagai pelayanan yang tulus, tidak palsu dan bukan dibuat-buat. Kita harus berdiri di hadapan Allah dengan hati nurani yang murni dan kudus, dan bersamaan dengan itu kita harus siap pula memberikan kesempatan orang lain mempertimbangkan hidup kita, dan kita tidak menutup-nutupi hidup kita dan motivasi dalam pelayanan kita.
Hal-hal inilah yang akan memunculkan kewibawaan rohani dalam tugas pelayanan pemberitaan Injil.
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy Lengkong, MTh.
Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia


Leave a Reply