/script>
Jakarta, legacynews.id – 1 Petrus 2:9 menegaskan identitas baru umat percaya. “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (LAI TB2).
Ayat ini memberi dasar kuat bagi peran seorang ayah. Ayah bukan hanya pencari nafkah. Ia adalah pemimpin rohani yang Tuhan tempatkan di tengah keluarga. Ia dipanggil untuk membawa keluarganya keluar dari pola hidup gelap menuju terang Kristus.
Sebagai imam, ayah memimpin keluarganya mendekat kepada Tuhan. Ia membangun altar keluarga melalui doa, pembacaan firman, ibadah, dan teladan hidup. Ia tidak hanya menyuruh anak dan istri mengenal Tuhan. Ia berjalan bersama mereka. Ia hadir, mendengar, menasihati, dan menjaga hati keluarganya tetap tertuju kepada Kristus.
Sebagai raja, ayah memimpin dengan hikmat dan kasih. Otoritasnya bukan untuk menekan. Otoritasnya dipakai untuk melindungi, mengarahkan, dan menegakkan kebenaran di rumah. Ia menjaga keluarganya dari pengaruh dosa, kekerasan, ketidakjujuran, dan nilai-nilai yang merusak. Kepemimpinannya harus mencerminkan Kristus yang melayani.
Ayah yang bijaksana memahami bahwa keluarga adalah ladang pelayanan pertama. Ia menjadi bapa sepanjang kehidupan. Ia membangun rumah yang sehat secara rohani, harmonis dalam relasi, dan kuat dalam iman. Dari rumah seperti inilah lahir generasi yang takut akan Tuhan dan siap memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah kepada dunia.
Ayah adalah Imam dan Raja di tengah keluarga. Ayah yang menjadi Bapa Sepanjang kehidupan bagi keluarga yang harmonis dan berkemenangan
Pro Ecclesia Et Patria
Antonius Natan
Fasilitator Nasional Bapa Sepanjang Kehidupan| Ketua Komisi Infokom PGLII


Leave a Reply