Gejolak Harga Beras Telah Melandai

/script>

Gejolak harga beras telah melandai. Harga baru yang terbentuk sekitar 10 persen (atau lebih) di atas harga setahun lalu. Pemerintah tetap menjaga agar petani mendapat profit yang memadai.

Jakarta, legacynews.id – Sejak pekan terakhir Februari 2023, gejojak beras mulai mereda. Sepanjang dua pekan terakhir, menurut layar dasbor di laman Pusat  Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) keluaran Bank Indonesia (BI), harga beras baik pada mutu bawah, medium, atau premium senantiasa muncul dalam balutan warna hijau. Artinya, harga beras stabil.

Secara nasional, rata-rata harga beras nasional (di 34 provinsi) Rp10.600 per kg untuk mutu bawah, dan Rp17.150 pada kualitas premium. Harga beras bertahan stabil di harga yang relatif lebih tinggi. Mengacu pada data PIHPSN, dibanding setahun lalu, harga stabil pada level tersebut yang berarti Rp1.200 per kg lebih tinggi pada beras mutu bawah dan yang premium bahkan Rp2.000 per kg lebih mahal.

Para analis percaya, harga tersebut itu akan menjadi harga baru beras di 2023. Koreksi harga masih bisa terjadi, tapi tak cukup besar. Pasokan beras ke pasar aman dan stabil, meski gelontoran beras  dari Bulog mulai dihentikan. Seperti telah disiarkan secara luas, pemerintah telah melakukan impor 500 ribu ton beras pada Desember dan Januari lalu.

Namun, Bulog tidak perlu terlalu gencar operasi pasar, karena mulai Februari lalu panen beras petani musim hujan (rendeng) telah dimulai, berlanjut pada Maret ini, dan akan mencapai puncaknya pada April–Mei nanti. Harga produksi beras di level petani sendiri memang naik.

Pada akhir 2022, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sudah mencapai Rp5.600 per kg, seribu rupiah di atas harga di awal tahun. Pada Januari dan Februari terus mengalami kenaikan sampai Rp5.800 per kg, dan baru saat memasuki Maret 2023 mengalami koreksi sedikit.

READ  Sawit Indonesia Mencapai 59 Persen Pangsa Pasar Dunia

Kenaikan harga gabah petani itu bukan saja karena tarikan permintaan yang kuat, terkait susutnya stok nasional menjelang akhir 2022. Harga pokok produksi padi di tingkat petani juga meningkat karena harga dihantam inflasi 5,5 persen, dan inflasi di sektor pangan yang bahkan di atas 10 persen. Salah satu pendorong inflasi sektor pertanian itu adalah kenaikan harga transportasi dan harga bahan-bahan industri pendukungnya seperti pupuk serta pestisida.

Kenaikan harga beras adalah konsekuensi dari terjadi lonjakan inflasi. Hanya dengan menaikkan harga jual produknya, petani bisa bertahan menjalankan usahanya. Berkat penyesuaian harga itu pula, para petani tak kehilangan daya belinya. Faktanya, nilai tukar petani (NTP) naik.

Data yang dirilis oleh BPS menunjukkan, per Februari 2023, NTP mencapai 110,53, naik 0,71 poin dari posisi Januari. NTP di awal 2023 ini meningkat signifikan dari Desember 2022 yang berada di level 109.

Survei BPS di 1.674 unit penggilingan padi di 25 provinsi memperlihatkan bahwa harga baik gabah kering giling (GKG), gabah kering panen (GKP), maupun gabah basah yang dipanen lebih awal karena ancaman genangan banjir mengalami peningkatan. Begitu halnya, harga jual beras dari penggilingan ke pedagang juga terkerek, baik di mutu bawah, medium, maupun premium. Tak pelak, harga di level konsumen juga menjadi lebih mahal.

Toh, meski menggerutu, masyarakat pun beradaptasi dengan harga beras yang lebih mahal, seperti halnya pada komoditas pangan lainnya, termasuk produk olahan seperti mi instan. Inflasi tak bisa ditolak. Di warung-warung eceran di pemukiman menengah-bawah Jakarta Selatan, misalnya, harga beras mutu bawah dijual dengan harga Rp8.500–Rp9.000 per liter, atau ke kilogramnya Rp11.300–Rp12.000. Untuk beras medium-tinggi Rp12.000 per liter atau Rp16.000 per kg. Khusus premium, umumnya tersedia di minimarket.

READ  Varian  Omicron Jangan Diremehkan

Toh, pemerintah tidak berniat menekan harga beras. Bahwa harga beras di tingkat konsumen masih bisa terkoreksi turun, pemerintah tetap akan menjaga agar tingkat harga yang terbentuk tak akan   merugikan petani, walau harganya tak sampai mencekik konsumen terutama dari lapisan bawah.

‘’Tugas pemerintah itu melindungi dan menjaga stabilitas harga dari hulu pada tingkat petani hingga ke hilir di tingkat konsumen. Petani perlu menerima profit yang memadai, tapi harganya terjangkau oleh masyarakat luas,’’ kata Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi, pada akhir Februari lalu.

Memasuki Maret 2023, panen raya mulai bergulir. Pasokan akan melimpah, dan harga beras akan cenderung beringsut turun, meskipun tak terlalu lebar. Produksi padi nasional antara Januari–April 2023, menurut proyek BPS, yang dirilis di 1 Maret lalu, cukup melimpah, yakni 23,94 juta ton gabah, yang setara dengan 13,79 juta ton beras.

Ada kenaikan tipis 0,56 persen dari periode yang sama pada 2022. Bila ditambah panenan Mei dan Juni ada kemungkinan produksi mekar menjadi 16,5–17 juta ton beras. Limpahan produksi itu berpotensi menekan harga.

‘’Saatnya pemerintah menjaga stabilitas harga di tingkat petani,’’ kata Arief Prasetyo Adi.

Maka, setelah ia berembug dengan berbagai stakeholders (pemangku kepentingan), termasuk Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Bapanas telah mengambil keputusan untuk menaikkan harga dasar (floor price) untuk pembelian beras cadangan pemerintah melalui Bulog.

Penjualan beras Bulog  pada operasi pasar tidak lagi menggunakan patokan harga Rp8.300 per kg, melainkan Rp9.000 per kg. Keputusan ini dituangkan melalui Surat Edaran (SE) Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi, pada 27 Februari 2023, menggantikan ketentuan lama, yakni Peraturan Menteri Perdagangan nomor 24 tahun 2020. Sebagai catatan, setelah Bapanas terbentuk Juli 2021, sebagai pelaksanaan UU nomor 18 tahun 2012, kebijakan urusan bahan pokok pangan dikoordinasikan oleh Bapanas.

READ  'Best Practice' Penanganan dan Pemulihan Bencana Gempa & Tsunami

Dalam SE Kepala Bapanas itu disebutkan, harga pembelian gabah kering panen dari petani (kadar air 18–19 persen) dinaikkan dari Rp4.200 kg ke Rp4.550, dan yang di penggilingan GKP naik dari Rp4.300 ke Rp4.650. Harga gabah kering giling (kadar air 13–14 persen) dipatok minimum Rp5.700 per kg, naik dari yang sebelumnya Rp5.200. Secara umum ada kenaikan 8–9 persen.

Permintaan pasar saat ini cukup tinggi. Toh, limpahan produksi tetap memberi tekanan pada harga dan jaminan floor price tetap diperlukan agar harga gabah di tingkat petani terjaga. Saat ini, para pelaku usaha penggilingan, pedagang (besar atau kecil) perlu stok. Gudang Bulog sendiri pun nyaris kosong setelah terkurang sejak Oktober tahun lalu, dan dituntut menyiapkan stok cadangan beras pemerintah (CBP) 1,5 juta ton.

Cadangan di masing-masing pihak barangkali perlu ditingkatkan guna mengantisipasi kemungkinan munculnya fenomena El Nino, yang memberi efek kemarau kering di Asia Timur, Asia Tenggara dan Asia Selatan, hingga Australia. Gejala munculnya El Nino, meski tipis, masih terbaca oleh para peneliti iklim. Pada setiap kemunculan El Nino, hampir selalu target panen meleset. (indonesia.go.id)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*