Gereja Bukanlah Tempat Pesugihan (bagian 3-selesai)

Harapan Jemaat dan Dorongan Gereja

Jakarta, legacynews.id – Dinamika keuangan dalam gereja sering kali menciptakan ketegangan antara harapan jemaat dan dorongan pimpinan gereja. Di satu sisi, jemaat sering mengaitkan praktik memberi dengan janji berkat yang berlimpah. Di sisi lain, pimpinan gereja menghadapi tuntutan pragmatis untuk membiayai operasional, pembangunan fisik, dan program misi. Ketika kedua kepentingan ini bertemu tanpa pemahaman teologis yang sehat, gereja rentan tergelincir menjadi institusi yang memanipulasi iman demi pencapaian target finansial. Artikel ini membahas dinamika tersebut dan menawarkan perspektif biblis untuk membangun budaya kedermawanan yang otentik.

Harapan jemaat sering kali dibentuk oleh narasi populer yang menyederhanakan kedaulatan Allah menjadi rumus sebab-akibat. Jemaat diajarkan bahwa menabur benih persembahan pasti akan menuai panen kekayaan (Jones, 2019). Pemahaman ini menciptakan mentalitas investasi dalam ibadah, di mana motivasi memberi didorong oleh kalkulasi keuntungan pribadi. Ketika harapan materialistis ini tidak terwujud, jemaat rentan mengalami krisis iman dan menyalahkan Tuhan atau gereja. Harapan yang keliru ini mengerdilkan makna salib dan mengabaikan panggilan untuk memikul penderitaan bersama Kristus.

Sementara itu, dorongan dari pimpinan gereja untuk mengumpulkan dana sering kali dibungkus dengan retorika rohani. Ajakan memberi untuk pembangunan gedung atau perluasan pelayanan adalah hal yang sah dan perlu. Namun, risiko muncul ketika pimpinan gereja menggunakan ayat-ayat Alkitab di luar konteks untuk menekan jemaat. Praktik menetapkan persepuluhan sebagai syarat mutlak keanggotaan atau pelayanan, misalnya, bertentangan dengan prinsip kebebasan dalam Perjanjian Baru (Piper, 2024). Tekanan semacam ini membuat jemaat merasa terikat oleh kewajiban hukum, bukan digerakkan oleh sukacita kasih karunia. Akibatnya, gereja kehilangan esensinya sebagai komunitas yang dimerdekakan oleh Kristus.

READ  Di Era AI dan Globalisasi Keluarga Kristen Menghadapi Tantangan

Alkitab memberikan panduan yang jelas tentang motivasi dan sikap yang benar dalam memberi. Kisah Para Rasul 20:35 mencatat perkataan Tuhan Yesus, “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam akumulasi harta, melainkan dalam tindakan melepaskan dan berbagi dengan sesama. Kedermawanan membebaskan jiwa dari cengkeraman materialisme dan mencerminkan karakter Allah yang murah hati. Selain itu, 1 Timotius 6:6 mengingatkan, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” Rasa cukup (contentment) adalah penawar terbaik terhadap ketamakan. Ketika jemaat merasa cukup dengan anugerah Tuhan, mereka dapat memberi tanpa pamrih dan tanpa menuntut balasan.

Kesimpulannya, gereja harus secara proaktif menekankan bahwa berkat Tuhan tidak bisa diperdagangkan. Pemimpin gereja memikul tanggung jawab etis untuk mendidik jemaat tentang penatalayanan yang alkitabiah, di mana memberi dipahami sebagai ekspresi iman, bukan jalan pesugihan rohani. Khotbah dan pengajaran harus mengarahkan pandangan jemaat pada kekayaan rohani di dalam Kristus, melampaui janji-janji fana dunia ini. Gereja yang sehat akan membangun budaya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan, sehingga jemaat memiliki kepercayaan penuh bahwa persembahan mereka digunakan untuk memuliakan Allah.

Gereja Bukanlah Tempat Pesugihan, melainkan tempat jemaat belajar memberi dengan iman, syukur, dan kasih. Dinamika yang sehat antara jemaat dan pimpinan gereja akan tercipta ketika keduanya tunduk pada otoritas firman Tuhan. Melalui pemahaman yang benar, praktik memberi tidak lagi menjadi beban atau transaksi, melainkan perayaan sukacita atas kasih karunia Allah yang tak terhingga.

 

Pro Ecclesia Et Patria

Antonius Natan
Ketua Komisi Infokom PGLII

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*