Pengkhotbah 11:9 (TB2) “Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bergembira pada masa mudamu …”
GenZ adalah generasi tidak dapat menunggu lagi, ia adalah kekuatan yang menghasilkan gelombang perubahan di segala bidang. GenZ dipandang sebagai kawanan anak-anak yang terobsesi dengan diri sendiri, tidak dapat meninggalkan gadgetnya, yang tanpa malu-malu menari di ruang publik, berbicara bebas, dan telah membuktikan diri mereka bermanfaat bagi dunia yang berubah dan berkembang.
Mengapa banyak pemimpin senior yang lebih senang menjaga posisi dan kedudukannya, dan sibuk membangun relasi ke mana-mana, namun melupakan regenerasi mudanya, akibatnya di pundak pemimpin yang seperti itu tidak pernah ada perubahan dan perkembangan yang signifikan alias status quo. Pemimpin senior lebih suka mempertahankan status quo, yang karenanya kelompok pemimpin seperti ini akan alami power syndrome setelah tidak berada di posisinya.
Ingat, salah satu yang membuat generasi muda di gereja keluar dan tidak lagi mau bergereja, karena motto gereja reformasi, “Ecclesia reformata semper reformanda” sudah lama dilupakan para pemimpin gereja. Generasi muda bukan obyek dari program gereja, karena ia adalah masa depan keluarga, masa depan gereja dan masa depan suatu bangsa. Jika dunia sekalipun coba membumkan GenZ, dengan kekuatan gadget, mereka akan tetap melangkah maju, berbicara dan membawa perubahan. Dunia mulai terkejut karena karena tiba-tiba kini waktunya Gen-Z mulai tampil dan bersuara. Pengkhotbah berkata, biarlah pemuda bersukaria dalam caranya sambil menikmati masa mudanya yang memiliki masa depan yang cerah.
Salam Injili,
Pdt. DR. Ronny Mandang, MTh.
Ketua MAPER PGLII
Majelis Pertimbangan – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia




Leave a Reply