Kultur Jawa Kristen Mojowarno Terbentuk oleh Rasul Jawa

<

Jakarta, legacynews.id – Pewarna Indonesia melanjutkan Napak Tilas Rasul Jawa, langit biru dan kehangatan mentari menyambut para jurnalis di kota santri Jombang. Di GKJW Mojowarno disambut sukacita oleh Pdt Muryo Djajadi, S,Th. Majelis Jemaat Kusno Rahadi, Handari Ningsih dan Vikar Frivena

Para Jurnalis dari berbagai kota melakukan ziarah ke makam-makam Rasul Jawa diawali tabur bunga di makam Abisai Dito Teruno didaerah Mojowarno. Di samping makam Abisai Dito Teruno, ada makam Singgo Truno yang merupakan salah satu pengikut dari Abisai Dito Teruno. Kisah pada tahun 1825 an mereka adalah bagian dari pasukan Pahlawan Pangeran Diponegoro yang di tangkap oleh Belanda. Makam dirawat oleh juru kunci Waksetionoto sejak tahun 1963 sebagai penerus orang tuanya.

Kiprah Abisai Dito Teruno dan pengikutnya memberitakan kabar baik tentang keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus diwilayah Mojowarno dan sekitarnya. hingga kini terus berkembang ditandai dengan berdirinya gereja-gereja dengan tetap menjaga budaya luhur bangsa seperti Wayang.

Pewarna Indonesia melanjutkan perjalanan menuju makam J.E Jellesma (1816 – 1858) di Mojowangi. Misionaris yang menguasai pengobatan herbal dan jamu-jamuan sehingga mampu mengobati penyakit dengan ramuan yang dia buat, disamping itu penginjilannya berjalan dengan baik dan menjangkau jiwa. Meninggal dalam usia muda 9 Juli 1851. J.E Jellesma ini sempat membuka sebuah rumah jamu untuk orang-orang yang sakit. Jellesma mengajarkan masyarakat bertani, membuat sepatu. Penginjilannya berkembang dari Cirebon hingga Surabaya. Pemuridan yang dilakukan melahirkan Rasul jawa yang terkenal seperti Kiyai Tunggul Wulung, Abisai Dito Teruno dan Paulus Tosari.

Perjalanan menuju makam Paulus Tosari yang berada di Mojolangi berada sekitar 1 km dari jalan besar, berada ditengah persawahan yang subur. Paulus Tosari merupakan seorang pendeta yang giat dan penuh semangat untuk penginjilan, mendapat SK sebagai Pamulang atau Guru Injil pada tahun 1880. Meninggal pada tanggal 21 Mei 1882, dalam hidupnya melakukan pengijinjilan lewat tatap muka dan melestarikan budaya seperti pertunjukan wayang yang di dalamnya mengandung tentang penyampaian Injil.

READ  Buya Syafii Maarif Seorang Guru Bangsa

Di samping makam beliau ada makam istrinya yang bernama Emma Sarinah (1884-1914) danĀ makam anaknya MasningĀ  (1881 – 1928).

Kisah ziarah makam, tentunya tidak berakhir melainkan menjadi bahan kontemplasi bersama, apakah Penginjilan yang dilakukan saat ini mampu meneruskan karya kasih keselamatan yang dilaksanakan oleh para Rasul Jawa. Penginjil Jawa membentuk kultur Jawa Kristen Mojowarno kota Jombang Jawa Timur dan terus berkembang kepelbagai kota di nusantara.

[Sujudkan Harefa]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*