MENDOAKAN INDONESIA AGAR BEBAS DARI PRAKTEK SUAP

MENDOAKAN INDONESIA AGAR SEMAKIN TERBEBAS
DARI PRAKTEK SUAP DAN KORUPSI
Namun, dari seluruh bangsa ini harus juga kaucari orang yang trampil dan takut akan Allah, orang yang terpercaya, dan yang benci kepada suap. Tempatkanlah mereka di antara bangsa ini menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. (Keluaran 18:21 – TB2)
Suap telah menjadi masalah yang serius dan kompleks di negara kita. Suap telah menjadi budaya yang mengakar serta bercabang di seluruh masyarakat. Terutama suap mencakup praktek penyalahgunaan kekuasaan dan pengaruh oleh pemimpin. Dari suap kepada praktek korupsi.
Dalam Keluaran 18:21 di atas, jelas bahwa seorang pemimpin harus bebas dari perkara suap. Suap akan menyebabkan praktek penyalahgunaan kekuasaan dan pengaruh seorang pemimpin. Sebab suap mengakibatkan dua hal: “membuat buta pandangan yang jernih” dan “memutarbalikkan perkara yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah.”
“Jangan menerima suap, sebab suap membutakan pandangan yang jernih dan memutarbalikkan perkara orang yang benar.” (Kel. 23:8 – TB2)
Secara etis teologis praktek suap merusak tatanan moral yang baik dalam masyarakat. Suap akan berakibat kepada pemutarbalikan keadilan, penerapan keadilan yang memandang bulu (tebang pilih), kebenaran menjadi kabur dan hak-hak keadilan orang yang benar diplintir.
“Janganlah memutarbalikkan keadilan dan janganlah memandang bulu. Janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang bijaksana dan memutarbalikkan perkara orang yang benar.” (Ul. 16:19 – TB2)
Dalam Perjanjian Baru, suap juga bertujuan untuk membelokkan atau menutupi fakta yang benar. Praktek ini dilakukan oleh oleh Mahkamah Agama untuk membelokkan dan menutupi fakta bahwa Yesus Kristus telah benar-benar bangkit dari kematian. (Bd. Mat. 28:11-13)
Mengapa orang mau melakukan suap? Setidaknya ada dua alasan, yaitu: keinginan untuk menjadi kaya dan memperoleh keuntungan yang besar dalam sekejap. Inilah yang pernah terjadi pada anak-anak Samuel yang jahat, yaitu Yoel dan Abia.
“Tetapi, anak-anaknya itu tidak mengikuti jejak ayah mereka. Mereka berpaling pada keuntungan semata, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.” (1 Sam. 8:3 – TB2)
Banyak orang ingin cepat kaya dan memiliki banyak harta, seperti rumah dan perabotan yang mewah, mobil mewah, dan perhiasan, pakaian mewah, dan lain sebagainya, serta gaya hidup yang mewah di tengah masyarakat, sehingga mendorong mereka untuk melakukan praktek suap atau korupsi.
Praktek suap ditentang Allah dan merusak tatanan moral yang baik dalam masyarakat. Marilah kita sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus tidak mempraktekkan suap, yaitu menyogok maupun disogok. Marilah kita terus mendoakan dan menyuarakan agar pejabat-pejabat, pemimpin-pemimpin, para wakil rakyat, para abdi negara di negara kita benar-benar terbebas dari kasus suap dan korupsi.
MENDOAKAN INDONESIA AGAR BEBAS DARI PRAKTEK SUAP!!!
“Teruslah Bersekutu dan Memberitakan Injil!”

Pdt. Tommy Lengkong, MTh.

Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia
READ  AKAL IMITASI KHIANATI NATUR SEBAGAI MANUSIA (6)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*