Kolose 2:22 (TB) semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia.
Ramai berseliweran di media sosial, adanya seruan dari kaum nonis “mari borong takjil buka puasa pada pukul 16.00, supaya mereka kehabisan takjil saat mau buka puasa!”.
Tak mau kalah, penjual takjil beri syarat “hai nonis silahkan beli takjil dengan syarat baca dulu ayat kursi!’, atau, “tunjukkan dulu KTPmu!”.
Ada juga isi khotbah pendeta yang menyemangati jemaatnya, meski katanya guyon, “ayo kita stand by pukul 15.00 untuk siap-siap berburu takjil, agar saat buka puasa yang mau buka puasa kehabisan takjil!”.
Muncul lagi, “oh silahkan borong takjil, kami tetap bisa buka puasa meski hanya dengan air putih dan dua buah korma!”.
Balas membalas muncul, dan “mari borong habis telur Paskah supaya nonis tidak punya telur saat Paskah!”.
Tentu saja hal ini bukan soal membantu UMKM agar dagangan takjilnya ludes sebelum jam buka puasa.
Hal-hal seperti ini, tidak dapat disebut sebagai kemenangan atas satu kelompok umat beragama kepada kelompok yang lain.
Batas-batas saling menghormati tidak perlu sampai pada hal-hal yang tidak berkaitan dengan kredo, apalagi masuk pada ranah borong-borongan makanan.
Tokh, bagi yang berpuasa meski seluruh gorengan dan manisan takjil Ramadhan diborong habis, hal itu tidak membawa manfaat apa pada iman yang bersumber pada Kitab Suci.
Tak perlu juga, gereja buat statement, “jika telur Paskah habis silakan diganti dengan jenis lain yang menyenangkan anak-anak!”. Buat apa?
Salam Injili
Pdt. DR. Ronny Mandang, MTh.
Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia


Leave a Reply