Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, aku mendengar makhluk yang kedua berkata: “Mari!” Dan majulah seekor kuda lain, seekor kuda merah padam dan orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga mereka saling membunuh, dan kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar. (Wahyu 6:3-4)
Nubuat tentang penduduk bumi kehilangan damai sejahtera. ayat-ayat ini adalah tentang penglihatan Yohanes tentang 7 (tujuh) meterai yang menyegel gulungan kitab. Gulungan kitab adalah Penetapan Allah (God’s Decrees) yang memuat catatan lengkap tentang apa yang Allah telah tetapkan atas kehendakNya sebagai destini dunia. (lihat Wahyu pasal 5) Meterai-meterai dalam Wahyu pasal 6 hingga 8 melambangkan masa-masa sukar dan juga penganiayaan.
Ketika Anak Domba melepaskan/memecahkan meterai kedua, kerub kedua berkata, “Mari”, maka majulah seekor kuda berwarna merah padam. Warna merah padam (Yun: purros) melambangkan warna api atau melambangkan darah yang berkonotasi kehancuran dan kematian yang disebabkan oleh penunggang kedua. Kuda merah padam akan menjelajahi seluruh bumi sehingga penduduk bumi saling menghancurkan dan saling membunuh.
Penunggang kuda merah padam “dikaruniakan kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi,…” dan “dikaruniakan sebilah pedang yang besar”, sehingga penduduk bumi saling menghancurkan dan saling membunuh. Jika kita mendalami hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah Allah melakukan hal yang jahat ketika Ia mengaruniakan penunggang kuda merah padam untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi dan sebilah pedang yang besar yang menjadi penyebab penduduk bumi saling menghancurkan dan membunuh? Jawabannya tentu tidak demikian.
Pada diri Allah tidak ada sesuatu pun yang jahat. Yang jahat adalah suatu independensi terhadap Allah, yang menentang atau melawan Allah. Dalam studi “theodisi” bahwa walaupun ada hal-hal yang berkontradiksi antara natur Allah dan perbuatan-perbuatanNya, namun Allah tetaplah Allah yang benar dalam segala jalanNya. Oleh karena itu dalam hal ini harus dipahami bahwa otoritas dan kedaulatan Allah, serta kehendak dan tindakan Allah yang mengaruniakan penunggang kuda merah padam untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi dan sebilah pedang yang besar sehingga menyebabkan penduduk bumi saling menghancurkan dan membunuh adalah bersifat permissive.
Perbuatan manusia yang saling menghancurkan dan membunuh itu telah ada pada manusia yang hidup dalam dosa, dan Allah tidak pernah memulai atau menyebabkannya. Namun pada sisi lain Allah mengontrol dan mengarahkan perbuatan-perbuatan manusia itu untuk maksud dan tujuan Allah. Allah tetap mengendalikan dan membatasi kejahatan mereka.
Dapat kita simpulkan, bahwa pembukaan meterai kedua ini menggambarkan tanda zaman dimana kita hidup. Kita menyadari bahwa manusia hidup saling membenci, saling melukai bahkan saling membunuh oleh karena tidak mengalami damai sejahtera dan hidup dalam roh kebencian/pembunuhan.
Marilah kita terus memberitakan Injil sumber damai sejahtera (Efesus 6:15), agar banyak orang yang mengalami damai sejahtera Tuhan Yesus dan keselamatan kekal.
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy Lengkong, MTh.
Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia

Leave a Reply