MENDOAKAN PEMIMPIN BANGSA MENJAGA SIKAP

/script>
MENDOAKAN PEMIMPIN BANGSA MENJAGA SIKAP
DAN MEMBUAT KEPUTUSAN YANG BIJAK
1 Raja-raja 12:6-7 Sesudah itu Rehabeam meminta nasihat dari para tua-tua yang selama hidup Salomo mendampingi Salomo, ayahnya, katanya: “Apakah nasihatmu untuk menjawab rakyat itu?” Mereka berkata: “Jika hari ini engkau mau menjadi hamba rakyat, mau mengabdi kepada mereka dan menjawab mereka dengan kata-kata yang baik, maka mereka menjadi hamba-hambamu sepanjang waktu.”
1 Raja-raja 12:13 Raja menjawab rakyat itu dengan keras; ia telah mengabaikan nasihat yang diberikan para tua-tua kepadanya;
Pemimpin bangsa harus selalu bijak dalam bersikap dan dalam membuat suatu keputusan. Ia perlu mengedepankan pertimbangan yang matang sebelum membuat suatu keputusan. Ia harus mengutamakan kebijakan yang menguntungkan rakyat dari pada menguntungkan dirinya sendiri atau kelompoknya. Dalam ayat-ayat di atas menggambarkan satu contoh dalam sejarah bangsa Israel tentang pentingnya pemimpin bangsa menjaga sikap dan membuat keputusan yang bijak dengan mengutamakan kepentingan rakyat.
Rehabeam adalah raja yang menerima suksesi dari Raja Salomo. Suksesi berjalan lancar karena faktor keturunan, yaitu dalam garis keturunan Daud. Pada awalnya orang-orang Israel sangat mendukung Rehabeam menjadi raja menggantikan ayahnya. Namun kemudian, karena sikapnya dan keputusan politiknya, ia gagal mempertahankan keutuhan kerajaan Israel, sehingga kerajaan itu terpecah.
Sikap dan keputusan politik yang bagaimana, yang menjadi penyebab ia gagal?
Sebelumnya Rehobeam telah mendengar nasihat para tua-tua yang berisi tentang:
  1. menjadi pelayan bagi bangsa ini,
  2. melayani rakyat,
  3. mengabulkan permohonan rakyat, dan
  4. dalam berkomunikasi, berkata-katalah dengan baik kepada rakyat. Tujuannya supaya rakyat mau mengikuti pemerintahan raja Rehobeam.
Namun justru Rehobeam mengabaikan nasihat para tua-tua dengan menjawab rakyat dengan keras.
1 Raja-raja 12:13 “Raja menjawab rakyat itu dengan keras; ia telah mengabaikan nasihat yang diberikan para tua-tua kepadanya
Kegagalannya adalah karena bersikap otoriter dan tidak mau mendengar aspirasi, serta keputusan politik yang salah yaitu menerapkan pemerintahan yang menindas rakyat.
Tuhan Yesus juga memberi peringatan tentang hal yang sama: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” (Markus 10:42-44)
Marilah kita terus mendoakan agar para pemimpin bangsa menjaga sikap dan membuat keputusan yang bijak dengan mengutamakan kepentingan rakyat.
“Teruslah Bersekutu dan Memberitakan Injil!”

Pdt. Tommy Lengkong, MTh.

READ  Nasihat Kepada Tujuh Gereja di Asia Kecil Masih Relevan

Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*