![]()
Jakarta, legacynews.id – Gereja sering kali terjebak dalam zona nyaman pelayanan karitatif, mengira bahwa memberikan bantuan materi (diakonia) sudah cukup untuk memenuhi panggilan Kristiani. Namun, teologi alkitabiah menuntut lebih dari itu. Selain melakukan tindakan nyata, pemimpin Kristen memikul tugas berat untuk menyuarakan kebenaran, sebuah tugas yang dikenal sebagai suara kenabian atau prophetic voice. Alkitab sangat keras mengecam eksploitasi ekonomi dan ketidakadilan sistemik.
Surat Yakobus 5:4 menyatakan dengan tegas, “Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari pekerja yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu”. Ayat ini menegaskan bahwa Allah bukanlah entitas pasif yang jauh di surga. Ia mendengar jeritan kaum buruh yang ditindas oleh majikan yang serakah. Kajian teologis modern mengategorikan penahanan upah pekerja ini sebagai salah satu dosa yang “menjerit ke surga” menuntut keadilan ilahi [1].
Suara kenabian ini telah bergema sejak zaman Perjanjian Lama. Nabi Amos (Amos 5:7-13), misalnya, dikenal sebagai nabi yang paling lantang menyuarakan keadilan sosial [2]. Ia tanpa henti mengkritik elit penguasa di Samaria yang memanipulasi timbangan, menyuap hakim, dan merampas tanah rakyat kecil demi memperkaya diri sendiri. Amos mengingatkan bangsa Israel bahwa Allah menolak ritual ibadah yang megah jika tidak disertai dengan keadilan sosial (Amos 5:21-24). Hal senada juga disuarakan oleh Nabi Mikha yang mengecam para pemimpin yang seharusnya mengetahui keadilan namun justru membenci kebaikan dan mencintai kejahatan (Mikha 3:1-2).
Suara kenabian pada hakikatnya adalah teguran keras terhadap sistem yang menindas. Di era modern, suara kenabian ini tidak lagi terbatas pada khotbah di mimbar gereja, melainkan harus diwujudkan melalui advokasi kebijakan publik. Pemimpin Kristen harus memiliki empat prinsip dasar: panggilan, keyakinan, keberanian, dan komitmen [3]. Mereka harus berani berbicara menentang undang-undang yang merugikan rakyat kecil, mengkritik perusakan lingkungan oleh korporasi serakah, dan menuntut transparansi anggaran pemerintah.
Sikap diam di tengah ketidakadilan bukanlah tanda kedamaian, melainkan bentuk persetujuan pasif terhadap kejahatan tersebut. Martin Luther King Jr., seorang tokoh yang menghidupi suara kenabian di zaman modern, pernah berkata bahwa perdamaian sejati bukanlah ketiadaan ketegangan, melainkan kehadiran keadilan [3]. Gereja yang diam saat rakyatnya ditindas telah kehilangan otoritas moralnya.
Panggilan Gereja untuk Advokasi Publik Melawan Ketidakadilan
Oleh karena itu, gereja harus membuka diri dan mempersiapkan jemaat untuk menjadi agen advokasi, masuk dalam dunia politik yang berintegritas dan takut akan Tuhan. Melalui Lembaga Bantuan Hukum maupun Partai Politik. Pendidikan teologi di gereja harus mencakup literasi politik dan hukum, sehingga jemaat memahami hak-hak sipil mereka dan mampu menganalisis kebijakan publik secara kritis. Gereja perlu membangun aliansi strategis dengan lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan kelompok lintas iman untuk memperkuat barisan perlawanan terhadap korupsi dan ketidakadilan.
Lebih dari itu, gereja harus menjadi ruang aman bagi para pelapor pelanggaran (whistleblowers) dan mereka yang menjadi korban ketidakadilan. Ketika jemaat melihat pemimpin gereja mereka berani berdiri di garis depan membela kebenaran, mereka akan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama di tempat kerja dan lingkungan mereka masing-masing.
Integritas tidak diwariskan, tetapi ditanamkan. Mari kita tanam benihnya hari ini agar bangsa ini panen kejujuran di masa depan. Panggilan untuk mewakili suara kebenaran adalah panggilan ilahi melalui partai politik yang tidak bisa ditawar. Gereja harus bangkit dari tidur panjangnya, menanggalkan ketakutannya, dan mulai bersuara lantang. Keadilan harus mengalir seperti air, dan kebenaran seperti sungai yang tidak pernah kering.
Tulisan ini dalam rangka menyambut PARTAI SETARA yang didirikan oleh anak-anak muda yang cinta tanah air dan takut akan Tuhan, untuk menjalankan mandat Ilahi. harapannya kehadiran partai ini menjawab sebagian dari persoalan bangsa
Pro Ecclesia Et Patria



Leave a Reply