![]()
Gereja Adalah Rahim yang Melahirkan Politisi Kristen Pemberantas Korupsi
Jakarta, legacynews.id – Korupsi bukanlah sekadar masalah hukum positif atau kelemahan sistem birokrasi, melainkan manifestasi dari dosa dasar manusia: keserakahan dan ketidakadilan. Dalam perspektif teologis, korupsi adalah pemberontakan langsung terhadap karakter Allah yang adil. Hukum Taurat dengan sangat tegas melarang praktik suap. Dalam Ulangan 16:19 (TB) tertulis, “Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar” [1].
Ayat ini membongkar anatomi destruktif dari suap. Suap merusak objektivitas (membuat buta) dan memanipulasi kebenaran (memutarbalikkan perkataan). Ketika seorang pemimpin atau hakim menerima suap, ia tidak lagi melayani kepentingan umum atau kebenaran ilahi, melainkan melayani kepentingan si pemberi suap [2]. Ini adalah bentuk penyembahan berhala modern, di mana uang (Mamon) menggantikan posisi Allah sebagai penguasa tertinggi atas keputusan manusia.
Korupsi juga merusak esensi relasi antarmanusia yang seharusnya dibangun di atas kasih dan keadilan. Korupsi mengubah relasi manusia menjadi transaksi komoditas. Oleh karena itu, perlawanan terhadap korupsi bukanlah sekadar agenda politik atau sosial, melainkan agenda teologis dan spiritual yang harus diperjuangkan oleh setiap orang percaya. Kajian akademik teologis menegaskan bahwa korupsi merupakan dekomposisi moral dan spiritual yang mengikis nilai-nilai dasar moralitas dan kesesuaian dengan kehendak Allah [3].
Menghadapi realitas yang memprihatinkan ini, gereja tidak boleh berdiam diri. Gereja harus membuka diri dan mengambil peran proaktif dalam mempersiapkan jemaat untuk menjadi agen anti suap dan anti korupsi yang berintegritas dan takut akan Tuhan. Saarnya berdiri partai yang lahir dari pewahyuan ilahi dengan visi yang kuat membela kebenaran dan keadilan. Gereja membuka diri dengan peranan politik dari Jemaat. Pembaruan etika dalam gereja adalah prasyarat mutlak bagi transformasi moral di tingkat nasional [4]. Gereja yang diam terhadap ketidakadilan sistemik sesungguhnya sedang mengkhianati panggilan profetiknya.
Langkah pertama yang harus dilakukan gereja adalah mengintegrasikan pendidikan etika anti korupsi ke dalam kurikulum pembinaan jemaat. Gereja mendorong Jemaat untuk menjadi politisi berintegritas dan takut akan Tuhan. Pengajaran Alkitab tidak boleh hanya berhenti pada keselamatan personal, tetapi harus menyentuh ranah etika publik. Jemaat perlu dibekali pemahaman bahwa integritas di tempat kerja, baik di birokrasi, swasta, maupun sektor informal, adalah bentuk ibadah yang sejati. Etika Kristen, yang berakar pada kehidupan dan ajaran Yesus Kristus, menawarkan solusi praktis untuk memulihkan tatanan moral, seperti penatalayanan yang transparan dan kepemimpinan yang melayani [4].
Kedua, gereja perlu menciptakan ekosistem akuntabilitas yang kuat. Para profesional Kristen yang terjun di dunia birokrasi dan politik menghadapi godaan yang luar biasa besar. Mereka membutuhkan komunitas iman yang tidak hanya mendoakan, tetapi juga berani menegur ketika mereka mulai menyimpang dari jalan kebenaran. Jemaat yang ada dalam Partai Politik dan birokrasi harus menjadi garam dan terang. Sistem akuntabilitas komunitas ini berfungsi sebagai pagar pelindung moral. Pemimpin gereja harus menjadi teladan pertama dalam hal transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan, sehingga gereja memiliki otoritas moral untuk berbicara tentang integritas kepada dunia [4].
Ketiga, gereja harus mendorong keterlibatan sipil berbasis iman. Ini berarti jemaat harus didorong untuk berani mendukung peranan partai politik yang menolak praktik suap dan korupsi, meskipun hal itu membawa konsekuensi yang merugikan secara materi atau karier. Integritas menuntut pengorbanan. Gereja harus berdiri bersama mereka yang berani bersikap jujur dan menanggung risiko demi mempertahankan kebenaran. Gereja menciptakan generasi takut akan Tuhan dan berani mengatakan tidak kepada korupsi.
Integritas tidak diwariskan, tetapi ditanamkan. Mari kita tanam benihnya hari ini agar bangsa ini panen kejujuran di masa depan. Gereja adalah rahim yang melahirkan politisi kristen pemberantas korupsi, yang mata batinnya tidak buta oleh suap, dan yang lidahnya tidak kelu untuk menyuarakan kebenaran. Panggilan anti korupsi adalah panggilan untuk menghadirkan Kerajaan Allah di bumi.
Tulisan ini dalam rangka menyambut PARTAI SETARA yang didirikan oleh anak-anak muda yang cinta tanah air dan takut akan Tuhan, untuk menjalankan mandat Ilahi. harapannya kehadiran partai ini menjawab sebagian dari persoalan bangsa
Pro Ecclesia Et Patria



Leave a Reply