![]()
Yohanes 4:14 (TB2) “tetapi siapa yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal”
Orang Samaria tidak bergaul dengan orang Yahudi, namun Yesus justru sengaja menjumpai seorang perempuan Samaria, yang memiliki beban berat karena masalah kehidupannya pribadinya, dan ia tidak ingin datang ke sumur Yakub jika akan bertemu perempuan-perempuan lainnya.
Yesus sengaja “bercakap-cakap tanpa satupun pertanyaan yang Dia ajukan!”.
Tanpa disadari perempuan Samaria, melalui percakapan “Air” Yesus sedang menolong perempuan itu dari masalah pribadinya yang berat.
Jelas perempuan Samaria hidup tanpa kepuasan, dan Yesus menawarkan “jika ia mau minum dari air yang Yesus berikan ia tidak haus dan haus lagi!” Benar, perempuan Samaria itu berkata agar Yesus berikan air yang Yesus tawarkan, bahkah akhirnya dari perempuan yang tidak bergaul, menyendiri, tidak bersosialisasi menjadi saksi Yesus di Kota Samaria.
Percakapan dengan Yesus membawa kelegaan atas beban yang dipikul. Betapanya seseorang yang berbeban berat bercakap dengan Tuhan Yesus, bukan doa monolog tapi percakapan interaksi.
Apakah Anda pernah bicara dengan Tuhan Yesus secara khusus?
Kalau pernah kapan dan berapa lama?
Apakah semua dilakukan secara tergesa-gesa?
Pernah berbicara dengan Gembala Anda, kapan dan berapa lama?
Dibalik percakapan selalu adalah tuntunan kelegaan.
Contoh, seringkali saya melayani konseling orang yang punya masalah, ia kerap meminta waktu saya paling banyak 1 jam.
Namun saya selalu menyiapkan waktu yang lebih dari satu jam.
Saat konseling, saya hanya memandu orang yang bermasalah untuk bicara secara tuntas…dan kadang, sampai saatnya ia akan berkata “Sudah Pak Pendeta…semua sudah saya sampaikan kini saya sudah lega…” dan saya tidak perlu menambah apa pun, karena intinya, orang itu hanya perlu mendapat kawan bicara yang bisa dipercaya, melepaskan khatarsis atau uneg-unegnya sampai habisi akan lega.
Konseling ini saya sebut “freedom of choice” orang yang dilayani menemukan jalan keluarnya sendiri di dalam Kristus, karena sebenarnya ia mengakui adanya Tuhan Yesus tetapi ia tidak punya waktu untuk bercakap.
Salam Injili
Pdt. DR. Ronny Mandang, MTh.
Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia

Leave a Reply