“Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” (Wahyu 3:15-16)
Dalam aktifitas pelayanan atau pekerjaan ada tuntutan untuk serius bekerja dan tidak setengah-setengah. Penilaian kinerja seseorang dinilai baik jika ia dengan serius bekerja. Orang yang tidak serius penilaiannya pasti tidak baik. Dan orang yang bekerja setengah serius juga sama nilai dengan yang tidak serius, yaitu tidak baik.
Dalam Wahyu 3:15-16 di atas ada suatu penilaian terhadap pekerjaan jemaat Laodikia. Penilaian yang berkaitan dengan pekerjaan dari jemaat sering diulangi dalam Wahyu pasal 2 dan 3 ini. Dapat kita lihat terhadap 5 jemaat: di Efesus (2:2), di Tiatira (2:19), di Sardis (3:1), di Filadelfia (3:8) dan di Laodikia (3:15)
Penilaian terhadap pekerjaan jemaat di Laodikia memiliki kesamaan dengan penilaian kepada jemaat di Sardis. Pekerjaan mereka tidak sempurna dan tidak layak. Tuhan Yesus tahu pekerjaan jemaat di Sardis dan Laodikia, sehingga Ia menegur mereka dengan keras. Mereka tidak lagi aktif dan hidup dalam pekerjaan yang baik.
Kemungkinan orang-orang Kristen generasi pertama di Laodikia, ketika mereka menerima Injil, mereka dibakar oleh semangat dan antusiasme untuk hidup dalam kehangatan rohani, tertarik untuk menjadi saksi Tuhan Yesus, memberitakan dan mengajarkan Injilnya supaya ada pertumbuhan jemaat, dan aktif melayani Tuhan. Namun sekarang keturunan mereka menjadi suam-suam kuku. Tentu lain halnya, jika jemaat di Laodikia tidak pernah mendengar Injil, mereka memang dingin secara rohani.
Sekarang mereka bersikap apatis, acuh tak acuh, tidak mempedulikan perkara-perkara rohani dan tidak serius dalam pekerjaan pelayanan. Tidak heran Tuhan Yesus berkata “Aku tahu pekerjaanmu” sambil mengimplikasikan bahwa di sana sama sekali tidak ada hal yang layak, yang dapat disebut pekerjaan yang baik dari satu jemaat milik Kristus. Itu sebabnhya Tuhan Yesus menegaskan: “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.”
Frasa “tidak dingin dan tidak panas” dapat diartikan sebagai kebimbangan, atau ditarik ke satu arah juga ke arah yang lain. Mereka adalah orang-orang Kristen yang tidak dapat memutuskan pilihan hidup atau melayani Tuhan secara serius atau tidak serius. Mereka memilih “di antara keduanya.”
Dalam kekristenan tidak ada yang disebut TERTIUM NON DATUR! (yang berarti “tidak ada pilihan ketiga yang diberikan,” yang merupakan sinonim dari hukum tengah. Prinsip dalam logika klasik menyatakan bahwa untuk setiap proposisi, hanya ada dua kemungkinan pilihan, dan tanpa pilihan di antara/tengah atau alternatif di antara keduanya. Misalnya, seseorang hidup atau mati, maka tidak ada keadaan antara) Hidup dalam keadaan suam-suam kuku itu bukan suatu pilihan. Pilihannya hanya dua, “dingin” atau “panas”.
Matius melestarikan perkataan Tuhan Yesus yang menekankan perlunya pilihan tegas, contoh: “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan” (Mat. 6:24); “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku” (Mat. 12:30).
Belajar dari teguran terhadap jemaat Laodikia, maka kita perlu mengevaluasi diri kita, supaya ketika kita melayani Tuhan, memberitakan Injil dan melakukan tanggungjawab, kita tidak didapati Tuhan Yesus suam-suam kuku. Tertium Non Datur; Bekerja suam-suam kuku
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy Lengkong, MTh.
Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia

Leave a Reply