Ritual Adat Balian Nimbuk Sawang Dilakukan Oleh Dayak Ngaju

/script>

Ritual adat Balian Nimbuk Sawang dilakukan oleh masyarakat Dayak Ngaju sebagai ungkapan rasa syukur dan permohonan doa kepada Tuhan YME agar mendapatkan rejeki yang melimpah. ANTARA/Makna Zaezar

Masyarakat beramai-ramai membuat kenta, makanan khas Dayak Kalteng berbahan dasar ketan. Kenta disangrai dan ditumbuk dalam lesung.

April dan Mei adalah masa yang ditunggu petani di perdesaan Nusantara. Periode tersebut hamparan padi di sawah siap dipanen. Ketika itu, seluruh warga desa bergotong royong menuai hasil panen sekaligus merayakan rasa syukur atas berkah panen.

Bagi suku Dayak yang tinggal di Kalimantan Tengah (Kalteng), mereka mempunyai tradisi menyambut panen padi yang diturunkan oleh nenek moyang Dayak sejak dulu kala. Mangenta, demikian nama tradisi itu yang berupa kegiatan kaum petani mengungkapkan rasa syukur atas dimulainya musim panen padi.

Masyarakat Dayak dahulu menjaga tradisi mangenta dengan tujuan untuk mendahului masa berkembang biaknya hama padi seperti tikus, burung, atau serangga.

Masyarakat beramai-ramai membuat kenta, makanan khas Dayak Kalteng berbahan dasar ketan. Kenta disangrai dan ditumbuk dalam lesung.

Biasanya makanan ini hanya disajikan pada momen tertentu, seperti saat upacara adat atau pernikahan suku Dayak Ngaju. Umumnya, dilakukan suku Dayak yang berdiam di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kahayan.

Mangenta ini dianggap memiliki nilai spiritual tinggi. Istilah adatnya, prosesi kuman behas taheta (makan beras baru).

Puluhan peserta lomba magenta menumbuk beras ketan dalam lesung di halaman Kantor Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Palangka Raya, Kalteng, pada Kamis (4/5/2023).

Peserta lomba Mangenta menggunakan busana daerah setempat (pakaian petani/kebaya daerah). Kriteria penilaian lomba mangenta ini adalah kerja sama/tanggung jawab dalam pembagian tugas, teknik dan proses pembuatan, kecepatan dan ketepatan waktu, kesempurnaan dan cita rasa, serta kebersihan dan penyajiannya.

READ  IAIN Takengon Berhasil Mengantarkan 17 Pengajarnya Jadi Doktor

Pemprov Kalteng juga menggelar mangenta besar-besaran pada Festival Budaya Isen Muleng (FBIM) pada 22–27 Mei 2023 di Kota Palangka Raya. Festival budaya terbesar di Kalteng itu akan menghadirkan ragam inovasi dan kreasi budaya lokal. Seluruh partisipan dari kabupaten/kota seluruh Kalteng diundang.

Tahun lalu, Provinsi Kalimantan Tengah menorehkan catatan baru di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURDI) yang sebelumnya dikenal Museum Rekor Indonesia (MURI). Mangenta sebagai tradisi kuliner Bumi Tambun Bungai, memecahkan rekor saat itu karena diikuti oleh 1.034 orang.

Bahan yang diperlukan untuk membuat kenta adalah padi ketan, kelapa muda, gula putih/gula merah dan air kelapa muda. Cara membuatnya, pertama padi ketan yang sudah direndam dan ditiriskan, disangrai selama kurang lebih 10 menit dengan api sedang. Padi yang sudah disangrai kemudian ditumbuk hingga halus.

Sedangkan cara memasak kenta adalah pertama, kenta yang sudah bersih ditambah dengan air kelapa secukupnya dan diamkan selama kurang lebih lima menit. Kemudian tambahkan gula pasir/gula merah dan parutan kelapa serta garam secukupnya. Terakhir, aduk hingga bercampur rata dan diamkan kurang lebih lima menit, dan kenta siap dihidangkan.

Kenta juga dapat diseduh dengan air panas dan diberi campuran susu. Tekstur kenta yang kenyal membuat olahan ini terasa semakin nikmat karena cita rasanya yang manis.

Saat ini banyak generasi muda Kalteng bahkan keturunan Dayak sendiri tidak tahu tentang tradisi mangenta ataupun makanan kenta. Oleh karena itu, pelbagai upaya mengenalkan tradisi nenek moyang ini, tidak hanya sekadar varian original. Melainkan juga, penganan tradisional kenta bisa menjadi kuliner modern yang digemari semua orang termasuk generasi milenial. (indonesia.go.id)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*