![]()
Pembelajaran yang sangat penting tentang “Bait Allah di YERUSALEM.
- Ketika kekaguman berlebihan terhadap kemegahan faktor lahiriah.
- Ketika tujuan esensi gereja (Ekklesia) mulai bergeser.
- Ketika gereja terjebak ke dalam ranah perlombaan dan persaingan kemegahan bangunan.
- Ketika pesona daya tarik menimbulkan perpindahan disebabkan oleh sarana dan prasarana lahiriah.
- Ketika pengaruh daya Tarik entertain lebih utama dibandingkan pendewasaan spiritual dan Tujuan Bapa Sorgawi.
Keinginan kuat yang baik dari para pimpinan Rohani, para pelaku kegiatan keagamaan Kristen hendaknya diimbangi oleh upaya menghadirkan nilai spiritual surgawi menjadi realitas.
Matius 24:1-2
Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Maka datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah.
Ia berkata kepada mereka: “Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batu pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”
Kenyataan tak terpungkiri seringkali dalam praktiknya, bahwa kepentingan merek organisasi, pelembagaan dan bangunan Bait Allah telah mengaburkan inti kerohanian yang sesungguhnya.
Bait Allah diasosiasikan dengan ritual keagamaan dan hanya menjadi kegiatan yang bersifat legalistik.
Kesalahan yang fatal yang tercatat pada abad I berujung pada kehancuran bangunan fisik pada Tahun 70 M, ketika Jendral Titus menghancurkan Yerusalem. Bait Allah dan Yerusalem yang seharusnya menjadi tempat dan lambang kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya, telah menjadi simbol-simbol kemunafikan karena menolak kehadiran Tuhan yang seharusnya menjadi pusat peribadahan umat yang dikasihi-Nya.
Inisiatif mendirikan atau memiliki bangunan untuk kebutuhan umat Tuhan secara permanen bukan hal yang keliru. Selama penekanan “kehadiran Kristus” dalam himpunan tetap menjadi prioritas.
Bagi umat percaya yang lebih mengutamakan pemahaman esensi Bait Allah kepada individu maupun himpunan ikatan komunitas keluarga. Dengan lebih memprioritaskan kepada kehidupan komunitas yang menyebar (parachurch) sebaiknya bergulir melakukan kegiatannya sesuai dengan Kasih anugerah TUHAN.
Gereja TUHAN seyogyanya lebih menekankan kepada faktor kehidupan sejatinya Pengikut Kristus baik secara individu dan korporat dibandingkan dengan perkara yang hanya bersifat sementara. Namun keberadaan gereja yang mumpuni dengan sarana prasarana juga akan melihat gereja yang memiliki keterbatasan agar terjadi keseimbangan diantara gereja lokal (regional).
Kiranya kasih kemurahan Kristus melingkupi gereja-Nya.
Lukman Pandji, hambaNYA.


Leave a Reply