FATHERLESS Atau Kehilangan Figur Ayah

Anak-anak tanpa figur ayah lebih rentan terhadap kemiskinan, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, dan masalah kesehatan mental. Firman Tuhan menegaskan bahwa ayah bukan sekadar pencari nafkah, melainkan imam keluarga yang bertanggung jawab menanamkan iman, kasih, dan disiplin rohani.

Jakarta, legacynews.id – Fenomena fatherless atau kehilangan figur ayah merupakan isu yang melampaui batasan keluarga, menjadi krisis sosial dan rohani yang berdampak lintas generasi. Fatherless tidak hanya berarti ketiadaan ayah secara biologis, tetapi juga absennya peran ayah dalam mendidik, melindungi, dan membentuk karakter anak. Seorang anak bisa saja tinggal serumah dengan ayahnya, namun tetap mengalami fatherless bila sang ayah tidak hadir secara emosional, rohani, dan relasional. Kehilangan figur ayah terbukti memengaruhi perkembangan psikologis, moral, bahkan rohani anak. Lebih jauh, hal ini dapat mengaburkan gambaran anak tentang Allah sebagai Bapa yang penuh kasih dan keadilan.

Data Dunia dan Indonesia

Fenomena fatherless telah menjadi perhatian global. Di Amerika Serikat, lebih dari 18 juta anak tumbuh tanpa kehadiran ayah di rumah (US Census Bureau). UNICEF menegaskan bahwa anak-anak tanpa figur ayah lebih rentan terhadap kemiskinan, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, dan masalah kesehatan mental. Di Indonesia, data BKKBN (2025) menunjukkan sekitar 20,9% remaja mengalami fatherless. Dari 30,83 juta anak usia dini, sekitar 2,99 juta anak tumbuh tanpa kehadiran ayah (UNICEF Indonesia). Indonesia sering disebut sebagai salah satu negara dengan tingkat fatherless cukup tinggi di Asia, meski klaim “peringkat ketiga dunia” masih memerlukan verifikasi akademis. Data ini menegaskan bahwa fatherless bukan isu marginal, melainkan masalah serius yang memengaruhi kualitas generasi penerus bangsa.

Firman Tuhan tentang Fatherless

Alkitab menyingkapkan kepedulian Allah terhadap anak-anak yang kehilangan figur ayah, sekaligus menegaskan tanggung jawab para-ayah:

  • Mazmur 68:6 (TB) – “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus
  • Efesus 6:4 (TB) – “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”
  • Maleakhi 4:6 (TB) – “Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah”.
  • Ulangan 6:6-7 (TB) – “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.Perintah agar orang tua, khususnya ayah, menanamkan firman Tuhan dalam kehidupan anak sehari-hari”.

Firman Tuhan menegaskan bahwa ayah bukan sekadar pencari nafkah, melainkan imam keluarga yang bertanggung jawab menanamkan iman, kasih, dan disiplin rohani.

READ  MENGAPA TIDAK SUKA BACA ALKITAB?

Pandangan Teolog

  • Teologi Reformed: Pandangan teologis mengenai fenomena fatherless atau ketiadaan figur ayah dalam keluarga memiliki implikasi yang mendalam dalam berbagai aspek kehidupan, baik secara rohani maupun sosial. Dalam perspektif Teologi Reformed, ayah dianggap sebagai representasi Allah sebagai Bapa dalam keluarga. Ketidakhadiran ayah dapat merusak gambaran anak tentang kasih dan otoritas Allah, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi perkembangan rohani dan emosional anak. Hal ini ditegaskan dalam buku John Calvin yang menekankan pentingnya peran ayah dalam mencerminkan sifat Allah dalam keluarga (Calvin, J. (2008). Institutes of the Christian Religion. Hendrickson Publishers).
  • Teologi Pastoral: Sementara itu, Teologi Pastoral melihat fatherless sebagai luka relasional yang membutuhkan pemulihan. Pendekatan pastoral menekankan pentingnya konseling, komunitas iman, dan pelayanan gereja dalam proses penyembuhan. Gereja berperan sebagai tempat yang aman dan mendukung bagi anak-anak yang mengalami ketiadaan figur ayah, membantu mereka menemukan identitas dan tujuan hidup yang sehat. Richard Baxter dalam bukunya “The Reformed Pastor” menyoroti pentingnya peran gereja dalam mendampingi individu yang mengalami kesulitan relasional. (Baxter, R. (2007). The Reformed Pastor. Banner of Truth).
  • Teologi Kontekstual: Di sisi lain, Teologi Kontekstual menyoroti bahwa fenomena fatherless di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh faktor personal, tetapi juga terkait dengan faktor struktural seperti urbanisasi, migrasi kerja, perceraian, dan kemiskinan. Gereja dipanggil untuk hadir sebagai keluarga rohani yang menopang anak-anak fatherless, memberikan dukungan emosional dan rohani yang mereka butuhkan. Gereja diharapkan dapat berperan aktif dalam mengatasi tantangan sosial yang dihadapi oleh anak-anak tanpa ayah, sebagaimana dibahas dalam karya Stephen B. Bevans mengenai teologi kontekstual (Bevans, S. B. (2002). Models of Contextual Theology. Orbis Books).
READ  Tiger Mom vs Elephant Mom dalam Mendidik Anak

Langkah Para Ayah Yang Ingin Berubah

Untuk mengembalikan peran ayah sesuai mandat ilahi, diperlukan langkah konkret:

  1. Mendidik
    • Membimbing anak dalam iman, bukan hanya menyerahkan pada sekolah atau gereja.
    • Membaca Alkitab bersama, berdoa, berdiskusi, dan menjawab pertanyaan iman anak.
  2. Melatih
    • Memberi teladan disiplin, kerja keras, dan integritas.
    • Melatih anak menghadapi tantangan hidup dengan iman dan tanggung jawab.
  3. Mengayomi
    • Menjadi tempat aman bagi anak untuk berbagi perasaan.
    • Hadir secara emosional, bukan hanya finansial.
  4. Mengakarkan dalam Takut akan Tuhan
    • Menanamkan nilai takut akan Tuhan melalui doa keluarga, ibadah bersama, dan teladan hidup.
    • Menghubungkan setiap aspek kehidupan (belajar, bekerja, bersosialisasi) dengan iman kepada Kristus.

Fenomena fatherless adalah krisis yang mengancam masa depan generasi. Namun, Firman Tuhan menegaskan bahwa pemulihan dimulai dari hati para-ayah yang kembali kepada anak-anaknya. Gereja, komunitas, dan negara perlu bersinergi agar para-ayah kembali pada mandat ilahi: menjadi imam, pendidik, pelindung, dan teladan iman bagi anak-anaknya. Dengan demikian, keluarga bukan hanya menjadi tempat bertumbuh secara sosial, tetapi juga menjadi ladang subur bagi lahirnya generasi yang takut akan Tuhan, berkarakter kuat, dan siap membangun bangsa.

“Paterna virtus filiis lumen est.” (Kebajikan seorang ayah adalah cahaya bagi anak-anaknya).

 

Pro Ecclesia Et Patria

Antonius Natan
Dosen | Fasilitator BSK | Ketua Komisi Infokom PGLII
Laki-laki harus menjawab panggilannya, untuk berperan sebagai bapa bagi keluarga, lingkungan dan bangsa. Jadilah menjadi bagian kegerakan lakii-laki yang berperan sebagai bapa Informasi lanjut dapat menghubungi HOTLINE 0821-2476-1551

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*