YESUS; ANAK MANUSIA (Bagian 1)

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Matius 16:13-16 
Pada rangkaian empat ayat di atas ada tiga nama yang digunakan berkaitan dengan Yesus, yaitu Anak Manusia, Mesias dan Anak Allah. Jadi selain menyebut diriNya, Anak Allah, Yesus juga menyebut diriNya adalah Anak Manusia.
Di dalam keempat Injil, paling tidak terdapat 80 kali Yesus memakai Anak Manusia untuk diriNya.
Anak Manusia (ho husios tou anthropou) merupakan kutipan PL yang secara harafiah berarti Anak manusia (the Son of Man), yang dalam Ibrani “ben adam,” yang berarti manusia pada umumnya atau kemanusiaan. Timbul satu pertanyaan, bagaimana menemukan hubungan antara Allah (Theos) dan manusia (anthropos) dalam konsepsi ho husios tou anthropou atau Anak Manusia?
Tentu kita telah ketahui bersama bahwa dalam pengakuan Iman Kristen, Yesus Kristus adalah Allah sejati dan manusia sejati. Hal ini kita pahami bahwa dalam diri Yesus Kristus, kita bertemu dengan relasi: Allah dengan manusia (kenosis) dan manusia dengan Allah (apotheosis). (Apotheosis adalah tentang pemuliaan manusia setara dengan Allah). Namun apotheosis disini bukan dalam pengertian pantheistis. Yesus pada hakikatnya adalah Allah yang sekaIigus sebagai Anak Manusia, melalui inkarnasi. Ia telah mengosongkan diriNya menjadi yang terbatas – – kenosis. (Fil. 2:7).
Bagaimana memahami hal ini? Dalam Kejadian 1:27, bahwa manusia diciptakan oleh Allah sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Yang mengindikasikan secara implisit bahwa di dalam diri manusia ada keserupaan dengan Allah dan sebaliknya di dalam diri Allah ada keserupaan manusia. Karena itu, jika Yesus menjadi manusia sejati, sebenarnya bukan sesuatu yang asing.
Implikasi bagi kita, orang-orang percaya bahwa Yesus Kristus adalah benar-benar Anak Manusia, yang tinggal bersama manusia. Selama Inkarnasi-Nya kita menemukan kehidupan Yesus di dunia ini sebagai manusia yang terbatas, tetapi Ia tidak berdosa. (Ibr. 4:15). Yesus mengidentifikasi diri dengan pelayanan-Nya di dunia dengan pendekatan empati. Ia menjadi Immanuel atau yang menyertai dalam pengalaman-pengalaman manusia yang terdalam. Ia dapat memahami kelemahan-kelemahan manusiawi kita. Allah bukanlah hanya Allah yang transenden, tetapi melalui kehadiran Anak Manusia yaitu Yesus Kristus, Ia adalah Allah yang imanen.
(bersambung)
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”

Pdt. Tommy Lengkong, MTh.

Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia
READ  Kebangkitan Dan Pengutusan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*