Gerakan Malu Jadi Tokoh Nasional Kalau Miliki Uang Dari Korupsi

/script>

Jakarta, legacynews.id – Belakangan ini banyak sekali birokrat atau tokoh nasional tertangkap kasus korupsi, tentu ini bukan merupakan cobaan apalagi ujian dari Allah. Kejahatan kemanusiaan seperti korupsi jika tertangkap adalah bagian dari kebodohan dan ketamakan yang harus dipertanggung jawabkan. Apakah tidak malu mencuri uang rakyat?. Seharusnya menjadi tokoh masyarakat malu menjadi penipu, sebagai pejabat merampok uang rakyat.

Menjadi perenungan bagi Orang-orang Percaya Yesus Kristus yang menjadi pejabat tinggi negara atau atau tokoh masyarakat. Sudahkah menjadi terang dan garam bagi dunia ? Rasul Paulus menulis dalam 2 Timotius 3: 17: Dengan demikian, tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Kita percaya Alkitab adalah kebenaran sejati dan yakin bahwa manusia memiliki kemampuan untuk berbuat baik. Jika seorang Kristen melakukan tindakan merugikan orang lain, kita bisa meyakini manusia tersebut sedang memakai topeng Orang Baik. Wajah aslinya berbeda, bisa-bisa telah berubah menjadi “wajah setan alias penipu atau bapa pembohong”.

Sistem sangat kuat memengaruhi sehingga membentuk budaya. Akibatnya, “manusia kepunyaan Allah” dapat menjelma bertentangan dengan Sang Pencipta. Perlu solusi mengubah sistem dan budaya yang semakin “merugikan”. Lihatlah! Saat ini Indonesia semakin “maju” di peringkat atas negara terkorup di dunia. data BPS menunjukkan Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Indonesia 2022 sebesar 3,93 pada skala 0 sampai 5. Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian 2021 (3,88).

Sistem yang ada membentuk orang Kristen, lupa diri. Kondisi seperti ini sudah ditulis oleh Rasul Paulus dalam 2 Timotius 3:1-5: Ketahuilah bahwa pada hari- hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak memedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakikatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!.

 

READ  Seleksi Terbuka Calon Dirjen Bimas Katolik

Sistem dan Whistle Blower

Melihat teks Kitab suci seperti ayat di atas, apakah berarti kita tidak bisa berbuat sesuatu agar terjadi transformasi? Jika kita melihat kenyataan radikalisasi dan berbagai gejala sejenisnya, masyarakat gundah. Ini sebagai akibat pemimpin agama-agama gagal menerapkan nilai-nilai Pancasila. Apakah penipuan juga masuk dalam gereja? Pemimpin agama menyalahgunakan uang persembahan atau persepuluhan?. Gembala mencuri uang gereja?

Radikalisasi sesungguhnya sangat diperlukan. Perlawanan terhadap kolonial dilakukan secara radikal. Bung Karno dalam pidato “Indonesia Menggugat” mengatakan, “Kami adalah nasionalis revolusioner, nasionalis yang radikal, nasionalis kepala banteng! Kami punya bahasa adalah bahasa yang keluar dari kalbu yang berkobar-kobar dengan semangat nasional, berkobar-kobar dengan rasa kecewa atas celaka dan sengsara rakyat”

Sekarang ini pun rasanya kita masih berada di bawah penjajahan, tentu dalam bentuk yang berbeda. Menurut BPS, Februari 2023: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,45 persen dan Rata-rata upah buruh sebesar 2,94 juta rupiah per bulan

Ini jumlah yang sangat besar di saat Indonesia merdeka 78 tahun. Dapat dipastikan pendidikan dasar di Indonesia belum mampu memasukkan “Life Skill” dalam kurikulumnya. “Life Skill adalah modal dasar untuk memiliki kemampuan bertahan hidup.

Secercah harapan muncul tatkala Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memaparkan akan melanjutkan transformasi pendidikan dan pemajuan kebudayaan melalui Program Merdeka Belajar di tahun 2021. salah satunya Penguatan Karakter. Tidak heran tatkala seorang bocah yang menjadi “whistle blower” bagi komunitasnya dihujat ramai-ramai oleh teman-teman bahkan oleh guru.

Saatnya kita sebagai Orang Percaya berani mengambil peran sebagai “Whistle blower” dan melakukan tindakan radikal mengubah karakter bangsa ini menjadi karakter yang takut akan Tuhan. Ingat, kita diperlengkapi dengan segala perbuatan baik. Ayat ini berlaku bagi kita. Mari pemimpin agama membuat gerakan jujur, para gembala menjadi teladan mengelola uang jemaat.

READ  Fungsi Tubuh Yang Terabaikan

Mari membuat efek domino dari “Whistle blower” menjadi semakin radikal sehingga dari RT, RW, Kelurahan, kecamatan hingga Istana Negara tidak ada satu manusia yang berani menjadi maling, pencuri apalagi perampok dana APBD, APBN yang sesungguhnya uang rakyat. Luncurkan “Gerakan Malu Menggunakan Pakaian Jika Berasal dari Uang Haram/ Korupsi”. “Malu Memiliki Rumah Jika Berasal dari Uang Haram”, “Malu Berbicara karena Pembohong”, “Malu jadi tokoh nasional kalau miliki uang dari Korupsi”, “Malu menjadi penipu”, “Malu menjadi orang munafik”, “Malu mengaku beragama tetapi korupsi”.

Mari kita murid kan bangsa ini dengan takut akan Tuhan. Ambil peranan Imam dan Raja dalam perjalanan hidup ini. membangun Gerakan Malu Korupsi #KorupsiMemalukan #KorupsiJahat #MaluPunyaAyahKorupsi #TangkapBapakKorupsi #GerakanMaluKorupsi

Pro Ecclesia et Patria

Antonius Natan |Staf Ahli Ketum PGLII

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*