Masjid Raya Medan Menjadi Ikon Wisata Religi

<

Masjid Raya Al-Mashun dirancang arsitek Belanda Theodoor van Erp yang juga merancang Istana Maimun, tetapi kemudian prosesnya dikerjakan oleh JA Tingdeman.

Jakarta, legacynews.id – Di jantung Kota Medan, sebagai pusat pemerintahan Provinsi Sumatra Utara, terdapat bangunan bersejarah dan menjadi cagar budaya setempat. Tempat itu adalah Masjid Raya Al-Mashun atau dikenal juga sebagai Masjid Raya Medan dan menjadi ikon wisata religi bagi kota ketiga terbesar di Indonesia tersebut.

Rumah ibadah umat Muslim itu lokasinya ada di di Dukuh Sungaimati, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimon, Kota Medan. Sisi timur Masjid Raya Al-Mashun menghadap ke Jl Sisingamangaraja sedangkan sisi utaranya tertuju ke Jl Masjid Raya.

Masjid berjarak hanya sekitar 200 meter dari Istana Maimun yang merupakan Istana Kesultanan Deli, sebuah kerajaan yang turut membangun peradaban Melayu modern di Sumatra. Rumah ibadah ini mulai dibangun pada 21 Agustus 1906 atau 1 Rajab 1324 Hijriah dalam kalender Islam, ketika Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam memimpin Kesultanan Deli.

Sultan Ma’mun ingin mewujudkan sebuah masjid yang megah, karena menurutnya hal itu lebih utama dibandingkan kemegahan istananya yang telah berdiri sejak 1888. Mengutip penelitian yang dilakukan Achy Askwana dari Universitas Sumatra Utara berjudul “Analisis Karakteristik Ornamen di Masjid Raya Al-Mashun Medan” (2015), Sultan Ma’mun memiliki kemampuan keuangan lebih karena saat itu permintaan ekspor tembakau Deli sedang meningkat.

Kondisi itu membuat Sultan Deli berkeinginan membangun fasilitas-fasilitas penting untuk kemajuan Kesultanan Deli. Pembangunan Masjid Raya Al-Mashun Medan menghabiskan biaya sebesar 1 juta gulden yang ditanggung oleh Kesultanan Deli. Namun, dikutip dari Tengku Luckman Sinar dalam Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur (2006), dana pembangunan masjid ini juga dibantu oleh seorang saudagar dari etnis Tionghoa bernama Tjong A Fie.

READ  Kemenag Bermitra Dengan LPAI Cegah Kekerasan Seksual Anak 

Pembangunan masjid ini selesai pada 1909 dan digunakan pertama kali untuk salat Jumat, 10 September 1909 atau bertepatan dengan 25 Sya’ban 1329 Hijriah. Ketika sudah berdiri dan resmi digunakan, Masjid Raya Al-Mashun tampak megah serta memiliki sayap di sisi selatan, utara, timur, dan barat. Pada awalnya Masjid Raya Al-Mashun dirancang oleh arsitek Belanda Theodoor van Erp yang juga merancang Istana Maimun, tetapi kemudian prosesnya dikerjakan oleh JA Tingdeman.

Van Erp ketika itu dipanggil ke Pulau Jawa oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk bergabung dalam proses restorasi Candi Borobudur di Jawa Tengah pada 1907–1911. Sebagian bahan bangunan masjid yang diimpor antara lain marmer untuk dekorasi diimpor dari Italia dan Jerman, kaca patri dari Tiongkok, dan lampu gantung didatangkan langsung dari Prancis.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*