Masjid Raya Al Mashun, Medan, Sumatera Utara. WIKI COMMON
Tingdeman merancang masjid ini dengan denah simetris segi delapan dalam corak bangunan campuran Maroko, India, Eropa dan Melayu, serta Timur Tengah. Pola bangunan oktagonal itu menghasilkan ruang bagian dalam unik, berbeda dari masjid kebanyakan. Kubah masjid letaknya di tengah bangunan, bentuknya tidak membulat, melainkan pipih oktagonal mengikuti desain bangunan. Desain demikian dikenal sebagai Moghul.
Kubah utama ditopang oleh delapan pilar beton besar berdiameter 60 sentimeter yang menembus hingga ke bagian dalam masjid, tepat di ruang salat. Selain itu, terdapat empat kubah lebih kecil tepat di atas empat bangunan sayap. Sekilas, model bangunan Masjid Raya Al-Mashun ini mengingatkan kita akan Masjid Raya Banda Aceh. Keempat bangunan sayap Masjid Raya Al-Mashun ini mempunyai beranda dilengkapi pintu masuk dan tangga hubung, karena antara pelataran dengan lantai utama masjid posisinya ditinggikan.
Bangunan masjidnya terbagi menjadi ruang utama, tempat berwudu, gerbang masuk, dan menara. Ruang utama, tempat salat, berbentuk segi delapan tidak sama sisi. Pada bagian mihrab terbuat dari marmer dengan atap kubah runcing.
Jendela-jendela besar mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca-kaca patri unik dan akan memancarkan warna menarik ketika terkena sinar matahari. Ornamen dengan nilai estetika tinggi tecermin pada bagian dalam masjid seperti di dinding, plafon, tiang-tiang, dan permukaan lengkungan yang kaya dengan hiasan bunga dan tumbuh-tumbuhan dan kaligrafi Islam.
Pada hari-hari tertentu seperti Ramadan, pengurus Masjid Al-Mashun rutin membagikan menu khas buka puasa berupa bubur sup anyang. Ratusan warga rela antre di pelataran luar masjid sambil membawa wadah untuk menampung bubur yang rasanya gurih.
Bubur sup anyang terbuat dari tepung beras, wortel, kentang, sayuran anyang atau pakis yang dibubuhi kelapa dan kacang panjang. Bubur itu dimasak terlebih dulu oleh pengurus masjid sebelum dibagikan kepada warga.
Masjid ini juga masih menyimpan mushaf Alquran tua berusia ratusan tahun yang dipajang di pintu masuk untuk jamaah laki-laki. Mushaf terbuat dari kertas kulit yang sangat tua, dibuat di Timur Tengah. Walaupun merupakan tulisan tangan, dan berusia tua, kitab suci ini tersebut masih utuh dan ayat-ayat yang tertera di dalamnya masih jelas untuk dibaca.
Kalau anda sedang berwisata atau pulang kampung ke Kota Medan, singgahi juga jejak peninggalan Kesultanan Deli di Masjid Al-Mashun ini.
[indonesia.go.id]


Leave a Reply