
Misi meneladani Yesus Kristus menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah demi pulihnya hubungan, terciptanya kesehatian dan kesatuan, serta respons dan aksi gereja yang terlibat di dalam realitas kemiskinan, penderitaan dan menegakkan keadilan.
Melalui Analisa Sosial diharapkan gereja dapat memahami sejarah gereja dan pasang surutnya, dan respons gereja terhadap kejadian-kejadian penting di sepanjang sejarah dan konteksnya. Gereja juga diajak menemukan masalah inti, akar masalah dan penyebab masalah dari studi kasus maupun faktual yang dihadapi gereja-gereja Papua tentang Peningkatan Sumber Daya Manusia, khususnya dalam mendapatkan akses ekonomi dan pekerjaan yang layak.
Peserta juga distimulasi untuk berpikir kritis sehingga mampu membedakan antara persepsi dan fakta serta menemukan faktor penyambung dan pemisah dalam suatu kehidupan di tengah gereja dan masyarakatnya. Hingga mereka mampu mengidentifikasi pesan-pesan etis yang tersirat, dan pada akhirnya mampu membawa etika Kristen dalam dunia, dalam pelayanan di tengah masyarakat.
Setelah 3 (tiga) hari lokakarya dan 2 (dua) hari untuk TOT (Training of Trainers), peserta mengungkapkan bahwa materi MPI membuka wawasan, metode analisisnya menarik sehingga peserta menjadi mawas dengan lingkungan, mampu mengidentifikasi dan memberi solusi dengan cara pendekatan-pendekatan yang baru dan cara berpikir baru yang inklusif.
“Saya bisa belajar bagaimana menjadi fasilitator dengan segala kesiapan materinya itu sangat luar biasa. Bagi saya merupakan hal yang baru. Ada hal-hal teknis yang ternyata penting untuk diterapkan supaya materi dapat disampaikan dengan baik,” kata Pdt. Arthur Samkakai, M.Min., Penghantar Jemaat Elim, Gereja Protestan Indonesia (GPI) di Papua.
“Tindak lanjut dari MPI adalah para peserta menjadi fasilitator untuk kegiatan serupa yang kami harapkan dapat diadakan oleh gereja dan sinode. Peserta juga diharapkan melaksanakan kegiatan yang sudah mereka presentasikan untuk dipraktekkan di lingkungannya dan kami siap mengawal generasi pertama alumni MPI Papua berhasil,” ujar Pdt. Pdt. Deddy Andi Madong, SH., MA.
Keyakinan Deddy Madong disepakati Anil Dawan yang mengamati bahwa selama pelatihan telah terjadi interaksi para peserta yang adalah pemimpin gereja. “Mereka kompak bersehati dan siap akan menindaklanjuti MPI bergaung di seluruh pelosok Papua.
Bergaung bahwa gereja adalah orangnya, dan bukan gedungnya untuk melakukan karya untuk Papua yang damai dan Papua yang sejahtera. Sejalan dengan Mazmur 133 yang mengatakan Indahnya Persaudaraan yang rukun demikian juga Indahnya membangun paradigma Inklusif bagi kita semua,” tandas Dawan. [RR]




Leave a Reply