MENUNGGU BERDIRINYA GEREJA INJILI BETAWI (III)

Matius 28:19 (TB2) “Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”

Batavia yang dijuluki Kota Tahi

Sedikit penduduk Jakarta yang tahu bahwa kotanya dulu di sebut “Kota Tahi“. Kisahnya terjadi pada tahun 1628, ketika pasukan Mataram menyerang Benteng Batavia (old town, sekarang disebut Kota Tua), yang mana pasukan kompeni telah kehabisan amunisi, lalu seorang pegawai (Seyger Rechteren) di benteng yang melihat pasukan Mataram hampir masuk, memiliki ide, bahwa kotoran pasukan kompeni dilemparkan saja ke pasukan Mataram. Akibatnya pasukan Mataram mundur dan berkata, “Mambet tahi!” “Mambet tahi!” (Bau tahi..bau tahi..). Ada seorang pasukan Mataram yang pernah berkawan dengan Belanda berteriak, “Kowe bakalai pakai tahi!“. Dari kata Mambet tahi inilah muncul kata baru Betawi (Mam bet tahiBetawi). Maka perang itu dimenangkan pasukan Belanda. Sejarahwan Belanda tidak pernah menemukan kata Betawi itu dari Mambet tahi, selain dari Batavia. Kemungkinan nama Betawi muncul dari pasukan Mataram dari kegagalan perang dan merasa malu, maka menjadi “episode kotoran manusia” (A.S. Wibowo, Kota Tahi, buku Ketoprak Betawi, Intisari, 2001)

Pada tahun 1629 pasukan Mataram menyerang lagi ke benteng Batavia dan kalah lagi. Karena Raja Mataram, Sultan Agung Hanyakrakusuma, yang memerintahkan pasukannya harus menang namun kenyataannya kalah, pasukan Mataram tidak berani pulang, mereka menetap di wilayah yang kini dikenal Matraman (dari kata Mataram).

Bisa dibayangkan situasi aroma Batavia karena orang-orang Belanda tidak pernah mau mandi, alasannya di Eropa dingin. Sehingga situasi di old town bertambah super bau. Barulah ketika pemerintah Hindia Belanda membuat aturan orang Belanda harus mandi, maka orang Belanda mulai mandi, namun hal itu pun hanya dua kali dalam satu minggu.

READ  Kristen Efek

Batavia dipimpin oleh Gubernur Belanda Jan Pieterszoon Coen, adalah pemimpin yang ingin mengubah Batavia menjadi pusat peradaban Hindia Belanda. Namun pada masa itu, Batavia kerap mengalami banjir yang hebat, karena hampir seluruh wilayah di luar Batavia (Old town) ditemukan banyak rawa. Rawa-rawa itu dikenal dengan nama Rawamangun, Rawabelong, Rawa buaya, Rawa bunga, Rawasari, Rawa Buntu, Rawa Bambu, Rawalumbu, adalah wilayah yang benar-benar rawa, termasuk wilayah yang sekarang dikenal Ancol dan Kelapa Gading adalah rawa-rawa. Jan Pieterszoon merancang Batavia kelak hanya mampu menampung 500 ribu orang.

Untuk mengatasi banjir rutin dan banjir sepuluhtahunan, Jan Pieterszoon membuat kanal-kanal air, pintu-pintu air, dari teknologi Belanda seperti: Pintu Air Manggarai, Pintu Air Pasar Baru, Pintu Air Karet, Pintu Air Mookervart di perbatasan Tangerang untuk suplai air bersih ke Batavia, dan Pintu Air Kecil dengan fungsinya yang berbeda-beda. Dan membangun pula Setu (Situ) (waduk penampung air semacam danau) untuk menampung kelebihan air banjir. Setu-setu tersebut, antara lain: Setu Babakan, Taman Situ Lembang, Situ Danau Srengseng, Situ Sunter, Situ Gintung. Diperkirakan Situ yang dibangun lebih 200 situ, namun karena laju pertumbuhan kota Batavia yang menjadi Jakarta, kini tidak lebih dari 11 Situ. Lainnya menjadi wilayah pemukiman, kantor atau perumahan.

Maka, jika hari ini penduduk yang berKTP Jakarta diatas 11 juta jiwa, dengan situ-situ yang telah hilang, kanal yang isinya sampah, dan pembangunan gedung pencakar langit terus dibangun, tanah di Jakarta mengalami penurunan setiap tahun 15 cm (data tahun 2010), sekarang diatas 17 cm. Dan kini mulai terlihat sebagian tanah di Jakarta Utara dan Jakarta Barat sudah lebih rendah dari air laut. Banjir Rob mulai sering terjadi.

READ  5 Alasan Kehadiran Gereja Digital Membingungkan

MENUNGGU BERDIRINYA GEREJA INJILI BETAWI (III). Bersambung …

 

Salam Injili,

Pdt. DR. Ronny Mandang, MTh.

Ketua MAPER PGLII

Majelis Pertimbangan – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*