Natal di Papua Harus Damai Seperti di Pulau Jawa dan Daerah Lainnya

Maksud Natal kebudayaan misalnya Natal dengan sinterklas, kado dan nyanyian-nyanyian yang serba gemerlap dan merdu sekalipun itu tidak salah tetapi dikaitkan dengan Yesus yang lahir di Palungan dan ditaruh ditempat yang tidak layak. Karena tak ada satupun ibu yang menempatkan bayinya di tempat hewan. Tetapi ini inti Natal adalah kesederhanaan, kebersahajaan harus kita tunjukan bukan pesta pora. Kalaupun ada dana lebih akan lebih baik diberikan kepada kawan-kawan di mana-mana ada didaerah yang sedang mengalami musibah dan bencana.

Tanpa harus memandang siapapun mereka, seperti orang majus yang mendatangi bayi Yesus dengan menempuh perjalanan 200. 000 KM dari timur itu ada daya juang, tetapi aplikasinya hari ini tidak pernah berNatalan dengan berjalan ribuan kilo, hanya cukup naik mobil sebentar saja sudah nyampai. Makanya yang tidak boleh hilang adalah spirit daya juang nya.

Dengan cara memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. “Kami di PGLLI mendorong perayaan Natal dilakukan dengan sederhana tanpa mengurangi makna Natal itu sesuai dengan firman Tuhan yang ada di Alkitab”, terang pendeta yang menggembalakann GKRI Karmel, Jakarta Selatan ini.

Selanjutnya patut bersyukur pemerintah tidak memberlakukan PPKM level 3, pun demikian diberlakukan protokol kesehatan yang dikeluarkan menteri dalam negeri dan menteri agama yang paling baru, disitu tidak ada pembatasan dalam pengertian umat  mau beribadah tidak dilarang tetapi barang tentu ada batasan-batasan pengunjung, mengikuti aturan peduli lindungi, dan tetap mengedepankan prokes.

Tujuan nya agar pelaksanaan Natal yang penuh hikmat ini dengan sahdu tidak kekurangan hikmat di mana orang tua dan anak-anak yang mau beribadah dianjurkan mengikuti secara daring, kemudian gereja agar menerapkan peduli lindungi agar gereja tidak menjadi cluster baru dengan varian covid yang baru, diharapkan gereja tidak menjadi sumber meledaknya pandemi dengan berbagai varian yang akan ada.

READ  Rawat Pancasila & Jaga Agar Tetap Sebagai Pedoman Hidup

“Intinya tetap mejaga diri mengikuti protokol kesehatan kepada siapapun baik pendeta, majelis dan orang-orang yang dianggap penting dari anggota jemaat tanpa pengecualian”, tandas pendeta yang dekat dengan wartawan ini.

Pdt Ronny jelas dengan apa yang dilakukan oleh gereja dengan tetap menjaga prokes ini akan menjadi kesaksiaan bahwa gereja mendukung pemerintah dalam melawan penyebaran corona dengan varian baru umicron.

Pdt Ronny mengajak, Natal kali ini yang menjadi pokok doa damai di bumi bagi seluruh umat manusia yang berkenan kepada Allah itu juga merata di negeri kita dari Papua sampai di Aceh dari Miangas ke Pulau Rote, artinya tidak ada diskriminasi tidak ada kesenjangan sekalipun itu tidak diciptakan tetapi peran dari gereja, peran umat Kristen dan peran umat beragama momentum seperti hari raya Natal.

Di mana Natal itu adalah hari besar dan di hari yang dibesarkan itu tentu bukan untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain yang mungkin hari ini berteriak dan menangis tetapi tidak terucapkan. Kita harus menangkap bahasa bathin kepada seluruh umat dan bangsa Indonesia yang menderita dan dengan Natal ini damai itu nyata.

[JM]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*