PSN Pengembangan Pangan di Papua Selatan

“Di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, lahan-lahan yang selama puluhan tahun tidak produktif mulai bersiap memasuki babak baru. Kawasan yang dahulu pernah menjadi sentra pertanian perlahan dihidupkan kembali melalui program pengembangan sawah.”

Jakarta, legacynews.id – Sebelum hamparan sawah baru terbentang dan suara mesin pertanian mulai terdengar di berbagai wilayah Papua, masyarakat setempat telah lama hidup berdampingan dengan tanah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Bagi orang Papua, tanah bukan sekadar ruang untuk bercocok tanam, melainkan warisan yang menyimpan identitas, budaya, sekaligus harapan bagi generasi mendatang.

Di tengah kebutuhan pangan nasional yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk Indonesia sekitar 3,5 juta hingga 4 juta jiwa setiap tahun, pemerintah menjalankan Proyek Strategis Nasional (PSN) pengembangan pangan di Papua Selatan. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus membuka peluang kesejahteraan bagi masyarakat setempat.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai langkah tersebut merupakan kebutuhan jangka panjang yang harus disiapkan sejak sekarang. “Kalau tidak ditambah, tidak ada PSN untuk padi, sagu, ubi, sementara penduduk bertambah 3,5 juta sampai 4 juta orang per tahun, pangannya dari mana? Kelaparan tidak? Ini kita bangun untuk keberlanjutan Republik Indonesia karena penduduk tidak mungkin tidak bertambah,” ujar Mentan Amran, pekan lalu.

Papua dipilih bukan tanpa alasan. Selain memiliki potensi lahan yang luas, wilayah ini juga telah lama mengenal komoditas lokal seperti sagu dan ubi yang menjadi bagian dari tradisi pangan masyarakat. Pemerintah pun tidak hanya mendorong pengembangan padi, tetapi juga memperkuat komoditas lokal yang telah diwariskan turun-temurun.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dari pembangunan. Berbagai dukungan diberikan untuk meningkatkan produktivitas petani, mulai dari bantuan alat dan mesin pertanian, benih unggul gratis, pembangunan irigasi hingga pendampingan budidaya. “Dikasih traktor, dikasih irigasi, dikasih benih gratis. Kira-kira salahnya di mana? Padahal kita ingin mereka sejahtera,” katanya.

READ  PUPR Berikan Dukungan Penyediaan Hunian Bagi Anggota TNI

Pemanfaatan teknologi pertanian modern mulai membawa perubahan. Produktivitas yang sebelumnya hanya sekitar tiga ton per hektare dengan satu kali musim tanam dalam setahun, kini dapat meningkat hingga tujuh ton per hektare dengan intensitas tanam mencapai tiga kali setahun. Perubahan tersebut membuka harapan baru bagi peningkatan pendapatan petani sekaligus memperkuat pasokan pangan nasional.

Menghidupkan Kembali Lahan yang Lama Terdiam

Di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, lahan-lahan yang selama puluhan tahun tidak produktif mulai bersiap memasuki babak baru. Kawasan yang dahulu pernah menjadi sentra pertanian perlahan dihidupkan kembali melalui program pengembangan sawah.

Wakil Bupati Sorong Sutejo menegaskan bahwa program tersebut tidak menyentuh kawasan hutan lindung maupun hutan milik masyarakat adat. Lahan yang dimanfaatkan merupakan areal di luar kawasan hutan yang selama ini terbengkalai. “Kepada masyarakat tempatan Sorong, saya sampaikan bahwa cetak sawah ini bukan hutan yang dilindungi dan bukan hutan masyarakat. Ini adalah daerah di luar hutan dan lahan-lahan yang tidur selama ini. Puluhan tahun tidur, itulah yang dicetak. Jadi mohon, saya kira ini aman untuk kita semua dan ini juga untuk kepentingan kita bersama,” ujarnya.

Wilayah Sorong sendiri sebenarnya memiliki sejarah panjang sebagai kawasan pertanian. Pada masa lalu, daerah tersebut dikenal sebagai kawasan transmigrasi dengan areal persawahan yang aktif. Namun, kerusakan jaringan irigasi membuat sebagian besar lahan tak lagi dapat dimanfaatkan secara optimal. “Dulu memang tempatnya sawah karena merupakan daerah transmigrasi. Karena irigasi pada waktu itu banyak yang rusak, sehingga sampai sekarang yang masih dikerjakan sekitar 200 hektare,” ungkap Sutejo.

Kini, pemerintah daerah menargetkan pengembangan sawah hingga 12.000 hektare. Sebagai tahap awal, sekitar 3.000 hektare lahan telah disiapkan untuk mulai dikembangkan.

Dari Cangkul Menuju Pertanian Modern

Perubahan paling nyata dirasakan masyarakat Kampung Ketom Jaya, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi. Jika dahulu aktivitas mengolah lahan dilakukan dengan cangkul dan parang, kini mesin pertanian mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari petani.

READ  Memperkuat Pengembangan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam

Ketua Gabungan Kelompok Tani Kampung Ketom Jaya, Michael M. Kubuan, yang juga merupakan pemilik hak ulayat, melihat program pengembangan pertanian sebagai harapan bagi masa depan keluarganya. Di wilayahnya, kawasan pertanian seluas 600 hektare tengah dikembangkan. “Mudah-mudahan dengan program sawah seluas 600 hektare ini dapat membawa perubahan bagi saya, anak-anak saya, cucu, dan keluarga yang ada di sekitar,” ungkap Michael.

Baginya, perubahan terbesar hadir melalui bantuan alat dan mesin pertanian yang membuat pekerjaan menjadi lebih ringan dan efisien. “Sebelumnya kami cangkul dan membersihkan lahan dengan parang. Sekarang kami bisa membajak. Dalam satu hari, satu alat bajak bisa mengolah hingga tiga hektare lahan,” tuturnya.

Modernisasi pertanian tersebut tidak hanya mengubah cara bekerja, tetapi juga menghadirkan optimisme bahwa tanah yang mereka miliki dapat menjadi sumber penghidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Harapan dari Sorong Selatan

Semangat serupa tumbuh di Kecamatan Moswaren, Kabupaten Sorong Selatan. Yance Homer menyaksikan perubahan cara bertani masyarakat Papua yang selama ini lebih akrab dengan aktivitas berkebun.

Kini, dengan hadirnya program pengembangan sawah, masyarakat mulai belajar mengelola lahan secara lebih terstruktur dan modern. “Kami orang Papua dulunya berkebun. Sekarang, dengan adanya program cetak sawah, kami ikut menjadi petani dan program ini sudah berjalan,” katanya.

Menurut Yance, pemanfaatan lahan yang selama ini terbengkalai justru memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar. “Daripada menjadi lahan tidur, sekarang dimanfaatkan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat Papua dapat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya. “Yang penting masyarakat bisa menghasilkan pangan sendiri dan tidak perlu lagi mencari beras dari jauh,” katanya penuh harap.

Menanam Harapan Bersama

Optimisme juga dirasakan Eliyeser Smi, petani asal Papua Barat Daya. Bagi dirinya, terbukanya lahan pertanian baru bukan hanya tentang bertambahnya areal tanam, melainkan kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan. “Ketika lahan dibuka, masyarakat kami mendukung dan siap mengelola lahan tersebut. Program ini memberi harapan baru bagi warga untuk meningkatkan penghasilan melalui pertanian,” kata Eliyeser.

READ  Tonggak Sejarah Pengembangan Kendaraan Listrik di Tanah Air

Ia berharap pengembangan sektor pertanian berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur agar hasil panen dapat didistribusikan dengan baik. “Kalau hasil pertanian sudah mulai meningkat, tentu jalan dan infrastruktur harus diperhatikan agar hasil panen bisa keluar dengan lancar dan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, bagi Bernadus Yewe, petani padi asal Kabupaten Sorong, bantuan yang diterima para petani menjadi penyemangat untuk terus mengembangkan usaha tani mereka. “Kami senang dapat bantuan. Pesannya biar Bapak Menteri harus lihat kami di bawah. Biar kami terus diberikan bantuan, biar sukses tanam padi. Menambah lahan lebih luas lagi. Biar kami bisa sukses ekonominya lagi,” tutur Bernadus.

Pembangunan pertanian di Papua tidak hanya berbicara mengenai peningkatan produksi padi. Pemerintah juga terus mendorong pengembangan sagu, kakao, kopi, pala, kelapa, ubi jalar, dan singkong yang selama ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Di tengah berbagai dinamika yang menyertai program tersebut, masyarakat Papua, petani, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan pemerintah pusat memiliki tujuan yang sama: menghadirkan ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di berbagai sudut Tanah Papua, lahan-lahan yang lama terdiam perlahan kembali hidup. Mesin-mesin pertanian mulai bekerja, petani mulai menata musim tanam, dan harapan baru tumbuh bersama benih yang ditanam.

Sebab bagi masyarakat Papua, yang sedang ditanam hari ini bukan sekadar padi atau komoditas pangan lainnya. Di atas tanah yang telah mereka jaga selama turun-temurun, mereka sedang menanam masa depan—masa depan yang diharapkan mampu menghadirkan kehidupan yang lebih sejahtera bagi anak, cucu, dan generasi yang akan datang.

Penulis: Ismadi Amrin (indonesia.go.id)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*