Varian  Omicron Jangan Diremehkan

Sejumlah warga lanjut usia antre mengikuti vaksinasi booster COVID-19 untuk lansia di Klinik Bhayangkara Serang, di Serang, Banten, Kamis (10/2/2022). Lansia yang belum mendapat vaksin dosis ketiga menjadi yang paling rentan terpapar Omicron. ANTARA FOTO/ Asep Fathurahman

Dalam keterangan sebelumnya, Rabu (16/2/2022) Nadia Tarmizi juga mengungkapkan bahwa mengacu pada hasil surveilans genomik yang dilakukan Badan Litbang Kesehatan Kemenkes, dalam 30 hari terakhir, 98 persen kasus Covid-19 yang muncul adalah dari varian Omicron.  Varian lainnya hanya 2 persen. Hal itu tidak banyak berbeda dari fenomena global, di mana varian Omicron mendominasi sampai 96,7 persen, Delta 2,3 persen, dan varian lainnya 1 persen.

Yang membedakan adalah tingkat  kejangkitannya pada anak-anak. Di negara asal Omicron, Afrika Selatan, korban pada remaja dan anak-anak cukup banyak. Dari populasi pasien yang dirawat di RS, di puncak gelombang Omicron Desember 2021, sekitar 7 persen adalah anak-anak dan remaja, dan 10 lainnya adalah anak balita. Persentase anak-anak dan remaja yang harus dirawat di rumah sakit lebih besar pada Omicron ketimbang Delta. Namun dari jumlah absolutnya, pada Omicron lebih kecil karena keparahan yang ditimbulkannya relatif lebih ringan.

Situasi yang sama juga terjadi di Inggris. Kantor Berita Reuters 16 Januari 2022 melaporkan bahwa dari seluruh pasien Covid-19 pada anak-anak di Inggris saat itu, 42 persen merupakan bayi usia di bawah 1 tahun. Pada era gelombang Delta, beberapa bulan sebelumnya, porsinya 30 persen. Namun, seperti dikatakan oleh Profesor Calum Semple, peneliti Child Health and Outbreak Medicine, bayi-bayi itu sebagian besar hanya menjalani perawatan lebih singkat dari kasus varian Delta.

Secara umum, bukti medis menunjukkan bahwa keganasan Omicron lebih ringan dari varian Delta. Studi terbaru oleh Kaiser Permanente Health System University of California at Berkeley menyebutkan bahwa risiko  kematian pada kasus Omicron 91 persen lebih rendah dibanding kasus Delta. Risiko terkena gejala berat dan masuk ICU berkurang 74 persen, dan 70 persen pasien Omicron menjalani rawat inap yang lebih singkat dibanding rata-rata perawatan akibat varian Delta.

READ  Tenaga Kerja Konstruksi Indonesia Tersertifikasi

Studi dari Universitas Californian Berkeley ini dilakukan dengan meneliti 70.000 catatan medis dari pasien Omicron dan Delta  dari berbagai rumah sakit  di negara bagian California. Para peneliti juga sempat men-tracing 700 ribu pasien yang mulai dirawat di berbagai rumah sakit di seluruh Amerika Serikat, pada satu minggu pada Januari 2022. Pada minggu berikutnya, hanya tersisa 135 ribu dan selebihnya sudah pulang ke rumah masing-masing.

Toh, gelombang besar Omicron yang sempat mencatat rekor 1,4 juta kasus per hari di AS, di masa puncaknya pertengahan Januari dan sesudahnya menimbulkan gelombang kematian 3.200–3.400 orang dalam satu hari. Jumlah itu lebih besar dari gelombang Delta yang angka korban tertinggi di kisaran 2.500–2.500 orang per hari. Kasus harian Omicron yang empat kali lebih besar tak urung dapat menimbulkan korban lebih besar.

Maka, jangan terlena dengan sebutan ringan (mild) pada Omicron. Ia tetap saja kuman penyakit yang tidak perlu dibawa ke lingkungan kita. Sikap sembrono bisa mendatangkan risiko buruk bagi orang-orang di sekitar, utamanya para lansia yang rentan dan para balita yang tak terlindungi oleh vaksin. Maka, seperti sering dikatakan berulang kali oleh Nadia Tarmizi, disiplin protokol kesehatan (prokes) adalah hal utama. ‘’Gunakan masker, cuci tangan pakai sabun, jauhi kerumunan,‘’ katanya. Ada baiknya, bila prokes juga mulai dibiasakan bagi anak-anak balita. Jalani vaksinasi, pandemi belum selesai.

[indonesia.go.id]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*