Kenyataan Kasus Perceraian di Indonesia Kembali Melonjak

NILAI KESETIAAN DI TENGAH MARAKNYA KETIDAKSETIAAN

Kenyataan yang ironis terjadi di dunia Kristen (baca: Barat) di mana ketidakkesetiaan sudah dianggap hal yang lumrah.

Perceraian meningkat tajam di negeri seperti Inggris dan Amerika. Diperkirakan dalam dua puluh lima tahun terakhir angka perceraian meningkat secara tajam sampai 600% di Inggris. Di Inggris 1 di antara tiga pernikahan mengalami kegagalan. Sedangkan di Amerika lebih dari satu di antara dua pernikahan mengalami kegagalan.

Ditambahkan, bahwa kemunduran iman Kristen bersamaan dengan memudarnya komitmen terhadap pemahaman Kristiani tentang kesucian dan keabadian perkawinan. Manusia semakin egoisme. Dan sekularisme dengan segala kebusukannya semakin nyata, dimana pengkhianatan dianggap sebagai sebuah keberhasilan. Hal-hal itulah yang mendorong nilai kesetiaan yang Alkitabiah diabaikan.

Sayangnya ketidaksetiaan juga sudah melanda negeri kita bak tsunami. Dari data empiris kasus perceraian di Indonesia. Dengan keprihatinan yang dalam kita perhatikan data menunjukkan bahwa di seluruh Indonesia kasus perceraian meningkat secara tajam akhir-akhir ini. Di tengah pandemi covid 19 dua tahun lalu, kasus perceraian di Indonesia kembali melonjak. Menurut laporan Statistik Indonesia, jumlah kasus perceraian di Tanah Air mencapai 447.743 kasus pada 2021, meningkat 53,50% dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 291.677 kasus. (Cindy Mutia Annur, databoks.katadata.co.id, 2022/02/28).

Tentu saja problema di dalam hubungan suami-istri hanyalah salah satu isu di antara isu-isu lain di tengah masyarakat yang jelas-jelas mengabaikan kesetiaan (loyalitas) sebagai nilai normatif yang harus dipegang teguh. Misalkan saja; kasus-kasus kriminilatas setiap hari seperti; Pencurian barang-barang di kantor atau perusahaan di mana ia bekerja  menunjukkan ketidakloyalan pada majikan atau bos.

Pengkhianatan terhadap sumpah jabatan oleh pegawai negeri yang ditandai dengan korupsi, kasus jual beli hukum yang semakin marak akhir-akhir ini yang dikenal sebagai mafia peradilan dst. Dan masih masih terdapat daftar panjang yang menggambarkan contoh-contoh ketidaksetiaan di tengah masyarakat dan bangsa kita.  Yang sangat disayangkan ternyata, bersamaan dengan semakin lunturnya kesetiaan di tengah masyarakat, orang-orang yang beragama Kristenpun tidak terkecualikan.

READ  Diperlukan Tangan TUHAN Untuk Merawat Indonesia

Di tengah maraknya potret ketidaksetiaan di tengah masyarakat di sini akan diberikan beberapa yang menjadi pertimbangan –pertimbangan akan pentingnya loyalitas.

Satu, Sebagai pertimbangan pendahuluan, dimulai dengan konsep sebagai manusia memiliki kekhususan (distinctivesness) di dalam hal moral. Inilah yang membedakan manusia dengan makluk-makluk yang lain. Sehingga tanpa moralitas, derajat manusia bisa turun menjadi derajat yang lebih rendah.  Dengan mengabaikan moral manusia mengalami proses animalisasi. Sifat-sifat asli manusia yang memberontak sama saja dengan kuda yang tidak terkendali atau dengan harimau yang ganas di tengah rimba. Hal ini sangat berbahaya.

Dua, dasar filsafat dan teologi. Manusia sebagai ciptaaan Allah diberikan otonomi untuk dipertanggungjawabkan.  Manusia berada di bawah perjanjian dengan Allah. Konsep manusia sebagai ciptaan mengindikasikan di sana adanya standar moral yang ditetapkan Sang Pencipta berdasarkan sifat yang kasih, kudus dan adil, juga permintaan tanggungjwaban dari Sang Pencipta. Di dalam perjanjian Allah (God’s Covenant), manusia menemukan makna hidup. Ke arah manakah seharusnya melangkahkan kakinya. Perjanjian Allah sebagai sebuah kekuatan yang mengarahkan sejarah hidup manusia.

Tiga, berdasarkan teori tentang kesetiaan (Loyalitas dan Fidelitas). Pertimbangan etimologi dari aspeks agama. Fidelitas sebagai sebuah kesetiaan kepada Allah. Fidelitas sebagai pelayanan dan ketaatan yang mutlak. Tidak ada ilah yang lain. Kutuk akan diberlakukan bagi yang tidak setia yaitu kematian atau dihukum oleh Allah dan alam.

Empat, kesetiaan ditinjau dari aspek sosial. Loyalitas (dari akar kata dalam  bahasa Perancis LOI, berhubungan dengan sebuah pemikiran legalitas di mana seseorang terikat oleh tugas untuk dengan secara mutlak membaktikan dirinya sendiri kepada tugas itu dan kepada Tuhannya. Dengan kata lain yang bersangkutan dia berhutang hidup dan akan keberadaan dirinya. Fidelitas sebagai loyalitas kepada seseorang atau sebuah corpus yang ideal. Loyalitas kepada individu, memberikan hidupnya dan tujuan dari keberadaannya. Dari segi pertimbangan etika. Loyalitas sebagai nilai yang mendasar dalam kehidupan sosial dan prinsip etika, tanpanya kehidupan sosial akan mustahil. Ini merupakan unsur yang mendasar di setiap peradaban dan sistem moral manusia.

READ  Produk Pelek & Ban Asal Indonesia Diterima Di Pasar Mesir

Nilai moral dari loyalitas: (1) Kaum Idealist (Josias Royce, 1924). mempertimbangkan loyalitas sebagai moral kebaikkan yang tertinggi.  Kebaikan yang tertinggi sebagai kesetiaan kepada kesetiaan. (2) Tanggapan Kristen terhadap pandangan kaum idealist: Kekristenan membedakan antara kualitas dari obyek loyalitas dari kualitas loyalitas itu sendiri. Contoh, mengesampingkan betapa baiknya iman itu, jika kualitas dari obyek (sasaran iman) itu adalah salah, konsekwensinya dapat lebih buruk lagi. Ada konsekwensi logis dari konflik kesetiaan dikarenakan konflik dari tugas-tugas. Di dalam situasi yang demikian pemahaman tentang kebaikan yang tertinggi (Summun Bonum) ditempatkan sebagai pertimbangan yang utama. Oleh karena itu tidak mungkin diskusi tentang loyalitas tanpa pewahyuan dan kemutlakan Allah.

Ajaran Alkitab tentang kesetiaan di dalam segala aspek kehidupan

Yang utama untuk dipertanyakan kepada orang Kristen sebagaimana juga dituntut dari Israel (Umat Allah di PL), apakah setia terhadap covenan –apakah tetap setia kepada Allah (perhatikan, Hakim2 2: 16-19). Ada akibat dari ketidaksetiaan kepada Allah. Pada jaman Hakim-hakim, umat Israel mengalami siklus kehidupan menggambarkan akibat ketidaksetiaan mereka.

Pertama, pemberontakan melawan Allah (infidelity).

Kedua, dijajah oleh bangsa lain – ada dibawah musuh.

Ketiga, dilepaskan oleh seorang Hakim (Penyelamat) yang diutus Allah.

Keempat, tinggal setia (fidelitas) kepada Allah selama Hakim masih hidup.

Kelima, mulai tidak setia lagi ketika sang Hakim meninggal,

Keenam, kemudian kembali ke siklus  …

Yang sebenarnya Tuhan menuntut supaya umat-Nya tetap setiap dalam situasi yang sesulit apapun.

Di Perjanjian Baru, Tuhan Yesus juga menuntut kesetiaan dari murid-murid-Nya.  Yang diutamakan adalah kerajaan Allah (Mat. 6:33). Terlebih dituntut dari murid-murid-Nya supaya mereka mengutamakan untuk mengikuti Yesus sebagai Tuhan di atas segala kepentingan yang lain termasuk mengurus warisan dari orang tua (lihat, Mat. 8:21-22). Tuhan Yesus datang menuntut kesetiaan kepada dirinya di atas kesetiaan di dalam hubungan keluarga (Luk. 12:51-53). Rasul Paulus juga menuntut kesetiaan dari jemaat hanya kepada Tuhan saja ( 1 Kor. 10:21).

READ  Orang Kristen Dipanggil Mendukung Jurnalis Dalam Dunia Yang Berbahaya

Kesetiaan dalam Perkawinan

Alkitab mengajarkan pernikahan secara monogamy. “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kej. 2:24). Sebagai impikasinya jelas bahwa Allah membenci perceraian. “ Aku membenci perceraian” (Mal. 2:16). Bagaimana apabila terjadi permasalahan yang gawat seperti ketidaksetiaan (baca: perjinahan salah satu pasangan), dalam hal inipun Alkitab mendorong adanya pengampunan dan pemulihan. “Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab Murka-Ku telah surut dari mereka.” (Hos. 14:5).

Kesetiaan dalam Persahabatan

Nasihat dalam Amsal 3:3,4, “ Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau!Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu ada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan  dalam pandangan Allah serta manusia.”  Pernyataan Amsal menegaskan pentingnya kepada Allah dan manusia dan penghargaan terhadap kesetiaan dari Allah maupun dari sesama manusia. Dalam hal kesetiaan kepada sesama kita mengenal apa yang disebut persahabatan. Seorang sahabat selalu setia di dalam setiap keadaan, saling menerima dan saling berbagi serta melakukan yang terbaik satu sama lain. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17).

Yesus adalah sahabat sejati bagi murid-murid-Nya, Ia mengajarkan arti persahabatan sejati kepada kita. Ia selalu bersama-sama dan tidak pernah meninggalkan kita. Ia mengasihi dan memberikan nyawanya kepada sahabat-sahabat-Nya (Yoh. 15: 12-15).   Dari sana kita belajar bahwasanya persahabatan sejati-kesetiaan dalam persahabatan dasarnya adalah cinta bukan karena paksaan. Hal itu tidak dapat diusahakan dengan kekuatan paksaan (2 Taw. 11:1).

Penutup

Di tengah maraknya ketidaksetiaan di berbagai ikatan hubungan dalam masyarakat. Marilah kita bersandar pada Roh Kesetiaan yang membimbing kita kepada kesetiaan kepada Tuhan, kesetiaan dalam pernikahan dan kesetiaan dalam kehidupan di tengah masyarakat. Tuhan yang memanggil kita setia dan akan memelihara kita dengan kasihNya.

Pdt Dr. Yohanes R Suprandono

Ketua PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*