Injil Bukan Kacang Ajaib

<

Filipi 1:12 (TB)  Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil,

Alkisah di suatu desa hiduplah seorang ibu dengan anaknya bernama Jack. Mereka hidup melarat dan hanya mempunyai seekor sapi. Karena terus menerus susah, si ibu meminta Jack menjual sapi satu-satunya ke pasar. Jack segera membawa sapi menuju pasar, namun di tengah jalan ia bertemu seorang kakek, dan si kakek bertanya kepada Jack ia mau ke mana? Jack menjawab akan menjual sapi tersebut, tetapi si kakek minta agar Jack mau menukar dengan sebutir biji kacang ajaib yang tumbuh sampai ke langit.

Meski Jack sudah menolak, karena si kakek memberi keyakinan, Jack menurut, ia setuju dan segera membawa pulang biji kacang ajaib. Setiba di rumah Jack melapor ke ibunya, tetapi reaksi ibunya begitu marah dan melempar biji kacang ke luar jendela. Namun esok pagi ketika si ibu bangun tidur dan membuka jendela, ia terkejut karena pohon raksasa tumbuh tinggi sampai ke langit.

Kisah Jack dengan kacang ajaib mengingatkan kita betapa sering kali ada keinginan di dalam diri kita ketika menabur Injil, maka esok hari Injil telah bertumbuh menjulang tinggi.

Rasul Paulus dari dalam penjara menulis tentang bagaimana ketika ia beritakan Injil terlampau banyak tantangan dan penolakan yang ia alami. Namun, betapapun beratnya tugas yang ia jalankan, sebagai seorang tawanan Roh, hasilnya semua itu membawa kemajuan bagi Injil.

Saat ini kita hidup di tengah budaya instan, dimana banyak orang ingin segera mendapat hasil namun menolak proses.

Injil bukan kacang ajaib yang hari ini ditabur besok tumbuh sebagai pohon raksasa.

READ  Berjuang Beritakan Injil

Bukankah kita sering alami saat memberitakan Injil, apakah kepada seorang kawan atau sekelompok masyarakat, terasa tiada hasil? Pada bagian itu kita sering merasa putus asa dan tak ingin meneruskannya lagi.

Injil bukan kacang ajaib, karena saat kita menabur di suatu tanah, adakalanya tanah tersebut bukan tanah yang subur dan kita harus setia memberi pupuk dan air.

Injil bukan kacang ajaib karena disaat menabur atau memberitakannya ia menunggu komitmen dan pengorbanan kita dan kita harus bayar harga, dan kelak pada waktunya Tuhan Yesus, kita akan melihat bahwa Injil tumbuh besar menjulang tinggi dalam kemuliaan Kristus.

Salam Injili

Pdt. DR. Ronny Mandang, MTh.

Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan lembaga-Lembaga Injili Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*