Injil Bukan Untuk Mengancam

<

“dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah .” Kisah Para Rasul 20:24

Salah satu yang perlu dijaga oleh seorang pekabar Injil adalah, ia tidak dibenarkan mengabarkan Injil yang disertai ancaman atau menakut-nakuti. Misalnya ketika mengabarkan Injil disertai ucapan “Jika menolak percaya Anda pasti masuk neraka!”.

Seorang pekabar Injil bertindak sebagai pembawa pesan, dan tidak dapat menjatuhkan hukuman kepada siapapun yang menolak Injil.

Karena itu, mengabarkan Injil tidak boleh disertai perasaan dirinya lebih superior, lebih pasti masuk sorga, bahkan kedudukannya lebih tinggi dari yang mendengar Injil.

Hal seperti ini justru sedang dipakai iblis dan bukan sedang melayani Allah yang hidup. Injil berisi kuasa Allah yang menyelamatkan, serta berisi kasih karunia Allah.

Berhasilnya seseorang menyambut Injil dengan terbuka, terjadi karena karya Roh Kudus yang membuka hati orang yang mendengar Injil.

Jika Injil berisi ancaman atau menakut-nakuti seseorang, bahwa jika ia tidak percaya pasti mati masuk neraka, maka Injil jauh dari kasih karunia Kristus.

Benar, siapa yang menolak dan mengeraskan hatinya dengan menolak Injil, ia akan dihukum. Tetapi soal penghukuman adalah kedaulatan Allah, pekabar Injil wajib mengabarkan Injil dengan hati yang penuh belas kasihan, dan mengasihi jiwa-jiwa yang belum terima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Tak perlu gusar, berdebat atau memberi ancaman saat Injil ditolak atau diabaikan, karena selalu ada waktunya Allah ketika seseorang membuka hati dan percaya Injil.

Salam Injili

Pdt. DR. Ronny Mandang, MTh.

Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia

READ  Deklarasi Damai di Tanah Papua

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*