Pemulihan Ekonomi Secara Masif dan Meluas di Indonesia

/script>

Mandiri Spending Indeks terus menguat di angka 132,0 per 21 Agustus 2022, sejalan dengan optimisme dan mobilitas masyarakat. Selanjutnya, di tengah pelambatan aktivitas manufaktur global, PMI Manufaktur Indonesia bulan Agustus 2022 tercatat sebesar 51,7, atau meningkat dari bulan lalu sebesar 51,3.

Kemudian, konsumsi listrik meningkat 9,7% (yoy), terutama berasal dari aktivitas bisnis dan industri. Sementara itu, inflasi tercatat sebesar 4,69% (yoy) melambat dibandingkan bulan lalu 4,94%. Dibandingkan peers, kenaikan inflasi domestik masih moderat. Hal ini tak lepas dari peran APBN yang masih menjadi jangkar terjaganya kenaikan inflasi.

Untuk neraca perdagangan, melanjutkan tren surplus pada Agustus mencapai USD5,76 miliar. Sehingga, secara kumulatif surplus NP mencapai USD34,92 miliar. Ekspor dan impor pada Agustus 2022 juga mencatatkan capaian tertinggi dalam sejarah. Ekspor mencapai USD27,9 miliar atau tumbuh 30,15% (yoy), serta impor tumbuh 32,81% (yoy) didominasi impor bahan baku, barang modal, dan BBM.

Di sektor moneter dan keuangan, volatilitas global turut berdampak terhadap arus keluar di pasar SBN. Namun, pasar saham masih mencatatkan inflow (ytd), sejalan dengan pemulihan ekonomi yang cukup kuat. Lebih lanjut, dari segi kepemilikan SBN masih didominasi oleh perbankan dan BI, sementara porsi kepemilikan asing turun secara bertahap sejak akhir 2019 (38,57%) ke angka 14,70% per 22 September 2022.

Tren capital outflow di Emerging Market termasuk Indonesia masih menjadi perhatian dan perlu diwaspadai pengaruh normalisasi kebijakan moneter global pada peningkatan cost of fund. Lebih lanjut dikatakan, kerja keras APBN melalui belanja negara didukung oleh program pemulihan ekonomi dan upaya untuk menjaga dampak adanya ketidakpastian.

Realisasi belanja pemerintah pusat (BPP) hingga Agustus 2022 mencapai Rp1.178,1 triliun (51,2% dari Pagu). Belanja K/L sebesar Rp575,8 triliun (60,9% dari Pagu), utamanya dimanfaatkan untuk penyaluran berbagai bansos dan program PEN ke masyarakat; pengadaan peralatan/mesin, jalan, jaringan, irigasi; belanja pegawai termasuk THR dan Gaji ke-13; dan kegiatan operasional K/L.

READ  Pemerintah Indonesia Telah Mengakhiri Status Pandemi Covid-19

Sementara itu, realisasi belanja non-K/L mencapai Rp602,3 triliun (44,4% dari Pagu), utamanya didukung penyaluran subsidi, kompensasi BBM dan listrik, dan pembayaran pensiun (termasuk THR dan pensiun ke-13) serta jaminan kesehatan ASN. “APBN yang terlihat positif sampai akhir Agustus memberikan ruang bagi kita untuk bisa membayar subsidi kompensasi yang merupakan perlindungan sangat besar kepada masyarakat kita. Sehingga, ada anggaran yang lebih dari Rp600 triliun bagi rakyat Indonesia dalam berbagai bentuk,” tambah Menkeu.

Sedangkan alokasi dana PC-PEN 2022 terdiri dari penanganan kesehatan sebesar Rp122,54 triliun, perlindungan masyarakat sebesar Rp154,76 triliun, dan penguatan pemulihan ekonomi sebesar Rp178,32 triliun. Realisasi PC-PEN hingga 16 September 2022 mencapai Rp214,9 triliun atau 47,2% dari total alokasi sebesar Rp455,62 triliun, meliputi: a) Kesehatan Rp38,4 triliun; b) Perlinmas Rp100,0 triliun; dan c) Penguatan Pemulihan Ekonomi Rp76,4 triliun.

[indonesia.go.id]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*