Pemulihan Ekonomi Secara Masif dan Meluas di Indonesia

/script>

 

Vaksinasi Covid-19 di Senayan, Jakarta. INFOPUBLIK/ Amiri Yandi

Dalam keterangan resmi Kementerian Keuangan disebutkan, perkembangan kondisi ekonomi global diwarnai dengan harga komoditas yang masih volatile. Namun secara umum, terdapat tendensi penurunan harga beberapa komoditas energi dan pangan seiring pelemahan prospek ekonomi global.

Selanjutnya, tekanan harga komoditas juga memicu peningkatan inflasi global, meski di beberapa negara mulai melambat. Inflasi Agustus di Brazil (8,7%), Inggris (9,9%), Eropa (9,1%), Jepang (3,0%), Tiongkok (2,5%), dan AS (8,3). Di samping itu, pelambatan aktivitas manufaktur global semakin dalam pada Agustus, terutama terjadi di negara-negara besar, seperti Eropa, Tiongkok, dan AS.

Adapun, pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif juga perlu diwaspadai, seperti kenaikan suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 75 basis poin pada FOMC September 2022. Pada RDG 21-22 September 2022, Bank Indonesia juga memutuskan untuk menaikkan BI-7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 bps menjadi 4,25%, sebagai langkah untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah.

Pemulihan ekonomi global terus berlanjut, namun melambat di banyak negara. Meski demikian, kinerja ekonomi Indonesia masih tumbuh kuat. Kinerja sektor eksternal Indonesia sangat positif, didukung neraca perdagangan yang melanjutkan tren surplus serta ekspor dan impor Agustus 2022, yang merupakan tertinggi sepanjang masa.

Aktivitas manufaktur Indonesia masih terus menguat dengan tekanan inflasi pada Agustus yang semakin berkurang. Peningkatan konsumsi listrik juga berlanjut, menunjukkan terus tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih akan tumbuh lebih baik di 2022, sejalan dengan proyeksi yang dilakukan oleh lembaga internasional terkemuka seperti ADB (5,4%), IMF (5,3%), Bloomberg (5,2%), dan Bank Dunia (5,1%).

READ  Jokowi Pilih Arief Prasetyo Adi Sebagai Kepala Badan Pangan Nasional

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi oleh berbagai lembaga internasional pada level antara 5,1 hingga 5,4 persen untuk tahun ini, ADB bahkan melakukan revisi untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini, dari semula 5,2 menjadi 5,4 persen. Ini tentu karena kinerja dari pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua yang cukup tinggi, dan saat ini sampai kuartal ketiga juga menunjukkan aktivitas yang masih sangat cukup kuat,” jelas Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi September 2022.

Pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut, didukung indikator utama yang menunjukkan kinerja yang kuat, baik dari sisi konsumsi maupun produksi. Google Mobility Indeks per 16 September 2022 berada di angka 19,5%, di atas level pandemi, meski termoderasi. Indeks penjualan ritel masih cukup kuat, turut menopang pemulihan ekonomi, di mana di bulan Agustus diperkirakan tumbuh 5,4% (yoy).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*